
Ban motor adalah satu-satunya bagian sepeda motor Anda yang benar-benar menyentuh aspal, tetapi ia paling sering dibeli dengan cara paling asal: "pokoknya yang buat Vario", lalu penjual menyodorkan apa saja yang ada. Padahal di dinding ban itu tercetak deretan angka dan huruf yang, kalau Anda bisa membacanya, langsung memberi tahu ukuran yang benar, batas beban, batas kecepatan, kapan ban itu diproduksi, dan kapan ia harus dipensiunkan. Artikel ini membedah semua kode itu berdasarkan penjelasan resmi dari pabrikan motornya sendiri, yaitu Astra Honda dan Yamaha, plus rujukan produsen ban Michelin untuk hal yang sifatnya standar industri. Tujuannya sederhana: setelah membaca ini, Anda tidak lagi menebak saat membeli ban, dan Anda tahu membedakan ban yang masih layak dari ban yang sudah waktunya pensiun, terlepas dari apa kata penjual.
Membaca kode ukuran ban: sistem metric dan sistem inci
Mulai dari yang paling menentukan salah beli atau tidak, yaitu ukuran. Astra Honda menyebut ada dua jenis kode ban motor yang beredar: metric dan imperial (inci), dan yang paling banyak dijumpai di pasaran adalah kode metric. Yamaha menjelaskan hal yang sama persis, jadi keduanya bisa saling menguatkan.
Ambil contoh kode metric 80/90-14 M/C 41P yang dipakai kedua pabrikan sebagai contoh. Menurut Astra Honda, angka 80 di depan adalah lebar ban dalam satuan milimeter. Angka 90 adalah aspect ratio, yaitu perbandingan tinggi ban terhadap lebarnya dalam persen, sehingga kalau lebarnya 80 mm, tinggi dindingnya adalah 90% dari 80, yakni 72 mm. Angka 14 setelah tanda hubung menunjukkan besar ring velg dalam ukuran inci. Yamaha menguraikan format yang sama untuk kode lain seperti 120/70-17 M/C 58S: lebar 120 mm, aspect ratio 70%, dan diameter velg 17 inci. Jadi begitu Anda paham urutannya, lebar per rasio, lalu tanda hubung, lalu diameter velg, Anda bisa membaca ukuran ban mana pun.
Aspect ratio ini bukan sekadar angka. Yamaha menjelaskan bahwa rasio yang lebih kecil membuat dinding ban lebih pendek sehingga handling terasa lebih responsif, sedangkan rasio yang lebih besar memberi dinding lebih tinggi yang lebih nyaman tetapi respons lebih lembut. Itu sebabnya mengganti ban ke profil yang jauh berbeda dari bawaan bisa mengubah karakter motor, bukan cuma tampilannya.
Bagaimana dengan kode model lama seperti 2.75-17 atau 3.00-17 yang sering Anda lihat di motor bebek? Itu kode imperial alias inci. Yamaha menjelaskan bahwa pada format imperial seperti 2.75-H-19 4PR, angka utama menunjukkan lebar dalam inci, dan rasionya biasanya dianggap 100% sehingga tinggi dinding kira-kira setara dengan lebarnya. Huruf di tengah menandai batas kecepatan, sedangkan tambahan seperti 4PR adalah ply rating, yaitu gambaran kekuatan struktur rangka ban. Nilai PR yang lebih tinggi berarti kemampuan menahan beban atau tekanan yang lebih besar. Intinya, kode inci dan kode metric menyampaikan informasi yang sama, hanya disusun berbeda, jadi jangan bingung kalau ban lama Anda memakai titik dan ban baru memakai garis miring.
| Bagian kode | Contoh 80/90-14 | Artinya |
|---|---|---|
| Angka pertama | 80 | Lebar ban 80 mm (metric) atau inci (imperial) |
| Angka kedua | 90 | Aspect ratio 90%, tinggi dinding 72 mm |
| Setelah tanda hubung | 14 | Diameter velg 14 inci |
| M/C | M/C | Penanda ban sepeda motor (Astra Honda: Medium Compound) |
| Angka indeks beban | 41 | Beban maksimal sekitar 150 kg |
| Huruf kecepatan | P | Batas kecepatan sampai 150 km per jam |
Kenapa ukuran ini tidak boleh sembarangan diubah? Astra Honda menegaskan bahwa ukuran ban bawaan motor sudah melewati serangkaian penelitian dan pengujian, sehingga mengganti ke ukuran yang tidak sesuai anjuran pabrikan memengaruhi handling, performa, sekaligus kinerja ban itu sendiri. Astra Honda merinci konsekuensinya secara konkret: memasang ban yang lebih lebar dari standar menambah bobot dan memperlebar tapak yang menyentuh jalan, sehingga daya hambat naik, mesin bekerja lebih keras, dan konsumsi bahan bakar jadi lebih boros. Sebaliknya, ban yang lebih kecil dari standar mengurangi tapak yang menempel di aspal, sehingga daya cengkeram turun, muncul risiko slip, dan pengereman menjadi kurang maksimal. Kalau Anda ingin tahu ukuran bawaan motor tertentu, spesifikasinya bisa Anda telusuri di katalog kendaraan, misalnya Honda BeAT atau Yamaha NMAX 155, sebelum mengambil keputusan mengganti dengan profil berbeda.
Load index, simbol kecepatan, dan penanda M/C
Setelah ukuran, dua angka dan huruf yang sering diabaikan padahal penting adalah indeks beban dan simbol kecepatan. Keduanya berurusan langsung dengan keselamatan, bukan sekadar spesifikasi teknis di atas kertas.
Indeks beban adalah angka yang mewakili beban maksimal yang boleh dipikul satu ban, dan angka itu perlu diterjemahkan ke kilogram lewat tabel standar, bukan dibaca apa adanya. Astra Honda memberi contoh konkret: pada kode 80/90-14 M/C 41P, angka 41 adalah load index, dan kalau dikonversi, ban tersebut mampu membawa beban maksimal 150 kilogram. Yamaha menambah contoh lain: pada kode 120/70-17 M/C 58S, indeks beban 58 setara sekitar 236 kg per ban. Perhatikan bahwa angka indeks itu bukan berat dalam kilogram, melainkan kode yang mengacu ke tabel, jadi 58 bukan berarti 58 kg. Kalau Anda kerap membonceng atau membawa muatan, angka inilah yang harus Anda hormati, dan Yamaha mengingatkan untuk tidak membawa beban melebihi indeks yang tertera di dinding ban.
Huruf di ujung kode adalah simbol kecepatan, yang menunjukkan batas kecepatan aman ban tersebut. Astra Honda menyebutkan contoh yang gampang diingat: ban berkode P pada speed index dirancang untuk kecepatan maksimal 150 km per jam. Yamaha mencontohkan huruf lain seperti H, S, dan V, dan menegaskan bahwa memakai ban dengan simbol kecepatan lebih rendah dari kebutuhan motor bisa memengaruhi keselamatan dan performa, terutama pada kecepatan tinggi. Untuk motor harian Indonesia yang jarang menembus batas itu, simbol kecepatan mungkin terasa berlebihan, tetapi menurunkannya jauh di bawah spesifikasi tetap bukan ide yang bijak.
Lalu apa arti M/C yang muncul di tengah kode? Di sinilah OtoTerkini memilih jujur soal adanya perbedaan penyebutan. Astra Honda menyebut kode M/C sebagai Medium Compound, yaitu informasi tentang jenis kompon atau bahan tapak ban. Yamaha menyebutnya sebagai penanda tipe khusus sepeda motor (motorcycle), dan pada halaman yang sama Yamaha mencatat bahwa sebagian penjelasan lokal memang mengartikan M/C sebagai Medium Compound. Jadi kalau Anda menemukan dua sumber yang seolah berbeda, keduanya sama-sama benar dalam konteksnya, dan yang praktis untuk Anda cukup satu: M/C adalah penanda bahwa ban itu memang untuk sepeda motor, bukan hal yang perlu Anda pusingkan saat mencocokkan ukuran.
Tubeless atau tube type: baca dulu sebelum mengganti
Satu penanda yang wajib Anda cek sebelum membeli adalah metode pemasangannya, karena salah pilih di sini berarti ban tidak bisa dipakai di velg Anda. Yamaha menjelaskan bahwa di dinding ban ada label Tubeless atau Tube type: ban tubeless tidak memerlukan ban dalam, sedangkan ban tube type wajib memakai ban dalam. Michelin menerangkan hal yang sama, bahwa kata Tubeless menunjukkan ban tidak butuh ban dalam sementara Tube type menunjukkan ban harus dipasangi ban dalam.
Mana yang lebih baik? Michelin menyebut ban tubeless umumnya lebih ringan, lebih hemat bahan bakar, dan sering lebih andal karena tidak ada ban dalam yang bisa rusak. Yamaha menambahkan keuntungan praktis tubeless: risiko kebocoran mendadak lebih kecil dan perbaikan sementara lebih mudah, misalnya saat tertusuk paku ban tubeless cenderung tidak langsung kempis total. Meski begitu, keduanya menegaskan bahwa tube type tetap relevan untuk velg tertentu atau motor klasik yang veleknya memang dirancang untuk ban dalam. Jadi patokannya bukan "tubeless selalu menang", melainkan ikuti desain velg motor Anda. Kalau velg Anda velg jari-jari model lama, memaksakan tubeless tanpa mengubah sistem velg justru mengundang masalah.
Penanda konstruksi lain yang mungkin Anda temukan adalah huruf R untuk radial. Yamaha menjelaskan ban radial punya lapisan kord yang tersusun melintang sehingga terasa lebih nyaman dan stabil pada kecepatan tinggi, sedangkan ban bias atau diagonal punya lapisan bersilang yang lebih kaku dan tahan, kadang dipilih untuk beban berat atau model klasik. Untuk mayoritas motor harian, Anda cukup mengikuti tipe konstruksi bawaannya.
Kode produksi DOT: cara tahu umur ban di rak toko
Inilah kode yang paling sering dilewatkan pembeli, padahal dampaknya besar untuk dompet dan keselamatan. Ban adalah produk karet yang menua, jadi ban "baru" yang sudah bertahun-tahun teronggok di gudang bukan benar-benar baru. Untungnya ada cara pasti mengeceknya.
Astra Honda menjelaskan bahwa ban memiliki kode angka, contohnya 2421, dan angka itu berarti ban diproduksi pada minggu ke-24 tahun 2021. Yamaha menerangkan mekanisme yang sama lewat kode TIN atau DOT: empat digit terakhir menunjukkan minggu dan tahun produksi, misalnya 4714 berarti minggu ke-47 tahun 2014, atau 2319 berarti minggu ke-23 tahun 2019. Michelin, sebagai produsen ban, mengonfirmasi standar ini: kode tanggal muncul di kolom TIN (Tyre Identification Numbers), diawali huruf DOT yang berarti ban memenuhi persyaratan Department of Transport Amerika Serikat, dan empat angka di akhir adalah minggu lalu tahun pembuatan, dengan contoh 4714 sama dengan minggu ke-47 tahun 2014. Tiga sumber, satu aturan baca yang sama, yaitu dua angka pertama minggu dan dua angka terakhir tahun.
Kenapa ini penting sekali? Karena, seperti dijelaskan di bagian berikutnya, karet ban mengeras seiring waktu terlepas dari seberapa jarang ban itu dipakai. Membeli ban lama stok gudang berarti Anda membayar penuh untuk ban yang jam pensiunnya sudah lebih dekat. Prinsip membaca kode produksi ini identik dengan yang berlaku pada roda empat, dan pembahasan lengkapnya untuk mobil ada di panduan tekanan angin dan rotasi ban mobil yang bisa Anda pakai sebagai pembanding.
Segitiga TWI dan usia pakai: dua patokan ganti yang berbeda
Ada dua alasan berbeda untuk mengganti ban, dan keduanya harus Anda cek terpisah, karena ban bisa wajib diganti karena aus, atau wajib diganti karena tua, atau dua-duanya sekaligus.
Patokan pertama adalah kedalaman tapak, dan pabrikan sudah menyediakan penunjuknya di ban itu sendiri. Astra Honda menjelaskan bahwa keausan ban dilihat dari Tread Wear Indicator (TWI), yaitu tanda batas keausan yang masih diizinkan. Kalau kembang atau tapak ban sudah menyentuh tanda segitiga TWI, Astra Honda sangat menyarankan ban segera diganti karena daya cengkeramnya tak lagi maksimal dan berbahaya bila diteruskan. Yamaha memberi angkanya: tonjolan TWI berada di dalam alur ban dengan tinggi 1,6 mm sebagai ambang batas, dan saat permukaan tapak sudah sejajar dengan tonjolan itu, ban harus segera diganti demi keselamatan. Michelin menyebut angka yang sama, bahwa bubungan kecil setinggi 1,6 mm di antara alur ban adalah indikator keausan, dan saat tapak aus sampai sejajar dengannya, ban telah mencapai kedalaman tapak minimum. Cara mengeceknya gampang: cari segitiga kecil di sisi ban, lalu ikuti ke dalam alur, di situ ada tonjolan; kalau permukaan tapak sudah rata dengan tonjolan itu, ban Anda sudah di garis batas.
Patokan kedua adalah usia, dan inilah yang paling sering diabaikan karena tidak kelihatan. Astra Honda menyatakan idealnya usia ban motor yang direkomendasikan maksimal sekitar 2 tahun atau sudah mencapai batas pemakaian 12.000 km, dan menyarankan penggantian setelah itu walaupun tingkat keausan tapak belum mencapai batas. Yamaha menjelaskan sebabnya secara teknis: kompon karet kehilangan elastisitasnya setelah sekitar dua tahun, dan paparan panas serta sinar matahari mempercepat proses itu. Jadi ban yang dipakai sebentar lalu diparkir bertahun-tahun bisa saja tapaknya masih tebal, tetapi karetnya sudah getas, retak halus, dan grip-nya sudah jauh berkurang. Yamaha bahkan menyarankan mengganti ban sebelum usia dua tahun bila sudah ada tanda aus atau retak. Angka dua tahun ini bukan tanggal kedaluwarsa yang kaku, melainkan patokan kapan Anda mulai wajar mencurigai kondisi karet, apalagi jika motor sering dijemur di luar.
Tanda ban harus diganti dan tekanan angin yang benar
Selain TWI dan usia, ada beberapa gejala fisik yang bisa Anda amati sendiri tanpa alat, dan sumber resminya konsisten menyebutnya. Yamaha merinci penyebab dan tanda ban yang perlu perhatian: retak pada karet, permukaan yang getas, serta keausan yang tidak merata alias aus sebelah. Aus tidak merata ini punya akar masalah yang bisa dikoreksi. Yamaha menyebut pengereman mendadak menimbulkan flat spot dan membuat permukaan getas, pemasangan pelek yang miring memicu getaran dan keausan asimetris, dan shock yang terlalu keras memusatkan beban di satu sisi sehingga ban aus sebelah. Kalau ban Anda aus tidak rata padahal masih tergolong baru, jangan cuma menyalahkan bannya; cek juga kondisi suspensi seperti diulas di panduan gejala shockbreaker motor rusak.
Tanda lain yang tidak boleh ditawar adalah benjolan pada dinding ban dan kebocoran yang makin sering. Benjolan menandakan struktur di dalam ban sudah rusak dan berisiko pecah, sementara ban yang bocor berulang menandakan karet dan pori-porinya sudah lelah. Yamaha menyebut kotoran, kerikil, dan sisa aspal bisa merusak pori karet dan memicu kebocoran lambat, sehingga membersihkan ban secara rutin ikut menekan masalah ini. Pemeriksaan rutin permukaan ban, kata Yamaha, sebaiknya jadi kebiasaan, dan idealnya menempel pada servis motor rutin yang sudah Anda jalani.
Sekarang soal tekanan angin, yang sering diisi berdasarkan feeling padahal sumbernya jelas. Kesalahpahaman umum adalah membaca angka MAX PRESS di dinding ban sebagai tekanan yang harus diisi. Itu keliru. Yamaha dan Michelin sama-sama menegaskan bahwa tulisan MAX LOAD dan MAX PRESS di dinding ban adalah batas struktur atau batas fisik ban, bukan rekomendasi tekanan untuk kendaraan Anda. Tekanan kerja yang benar, kata Yamaha, selalu merujuk ke buku manual motor atau stiker yang menempel di kendaraan (kerap di area rangka atau lengan ayun), bukan ke kode di ban. Michelin menyebutkan prinsip yang sama untuk kendaraan pada umumnya, yaitu acuannya adalah rekomendasi produsen kendaraan di buku manual atau stiker.
Karena angka spesifiknya berbeda tiap motor, OtoTerkini tidak mengarang satu angka psi tunggal di sini; yang benar adalah membaca stiker motor Anda sendiri. Yang bisa dipastikan adalah pentingnya menjaganya. Astra Honda mengingatkan bahwa tekanan terlalu rendah tidak disarankan untuk pemakaian jauh, sementara tekanan berlebih membuat ban keras sehingga keseimbangan berkendara terganggu dan muncul getaran pada pengendalian. Yamaha menyarankan memeriksa tekanan setiap minggu atau sebelum perjalanan jauh, mengukurnya saat ban dalam keadaan dingin, dan tidak lupa mengecek kondisi pentil beserta tutupnya karena pentil aus memicu kebocoran perlahan. Yamaha juga menganjurkan rotasi, balancing, dan pemeriksaan berkala setiap 10.000 km agar keausan lebih merata.
Harga ban motor: kenapa merek bukan segalanya
Di bagian ini Anda mungkin mengharapkan tabel harga rupiah yang pasti. OtoTerkini memilih tidak mengarangnya, dan alasannya justru informasi yang berguna untuk Anda. Berbeda dari, misalnya, tarif pajak yang punya dasar hukum, ban motor tidak punya harga eceran resmi nasional yang bisa dikutip dari sumber pabrikan. Astra Honda dan Yamaha menerbitkan cara membaca dan merawat ban, bukan daftar harga yang mengikat. Menuliskan angka seolah-olah resmi hanya akan menyesatkan Anda saat berhadapan dengan penjual yang harganya bisa berbeda-beda.
Yang bisa dinyatakan jujur adalah pola harganya, dan pola itu cukup untuk menakar apakah penawaran masuk akal. Harga ban motor umumnya bergerak mengikuti tiga hal. Pertama, ukuran: makin besar diameter velg dan makin lebar bannya, umumnya makin mahal, sehingga ban ring 17 untuk motor sport biasanya lebih mahal daripada ban ring 14 skutik kecil. Kedua, jenis dan konstruksi: ban tubeless umumnya dibanderol berbeda dari tube type, dan pola tapak khusus seperti ban basah atau semi-slalom bisa lebih mahal daripada pola standar. Ketiga, merek dan penjual: ban dengan ukuran sama dari merek berbeda bisa berselisih harga jauh, dan konter pinggir jalan, bengkel resmi, serta marketplace punya struktur harga masing-masing. Karena itu, membandingkan beberapa penjual untuk ukuran yang persis sama adalah cara paling waras menemukan harga wajar.
Sekarang bagian yang paling sering salah kaprah, dan ini poin jujur yang jarang disampaikan penjual. Ban yang lebih murah tidak otomatis lebih buruk asalkan ukuran, indeks beban, dan simbol kecepatannya cocok dengan spesifikasi motor Anda. Astra Honda menekankan bahwa yang menentukan handling, performa, dan keamanan pengereman adalah kesesuaian ukuran dengan anjuran pabrikan, bukan mereknya. Yamaha menegaskan hal senada, yaitu mematuhi indeks beban dan simbol kecepatan meningkatkan keselamatan dan menurunkan risiko kegagalan ban. Michelin pun menyarankan mengganti ban dengan yang setara spesifikasinya, misalnya ban berkapasitas beban khusus harus diganti dengan yang setara. Artinya, sebuah ban lokal berkualitas yang ukurannya pas dan rating beban serta kecepatannya sesuai lebih layak dipercaya daripada ban mahal yang ukurannya tidak cocok. Yang wajib Anda jaga bukan gengsi merek, melainkan tiga hal tadi: ukuran, beban, dan kecepatan.
Tentu ada batas dari sikap hemat ini. Harga yang jauh di bawah pasaran untuk ukuran dan kelas yang sama layak dicurigai, bukan disyukuri, karena bisa jadi itu ban stok lama (cek kode produksinya) atau produk yang tidak jelas asalnya. Dan biaya ban ini, bersama servis berkala dan pajak tahunan, sebaiknya ikut Anda masukkan ke hitungan kalkulator biaya kepemilikan kendaraan supaya beban setahun terlihat utuh, bukan kaget saat dua ban minta diganti bersamaan.
Menutup semuanya, ban motor sebenarnya sangat komunikatif kalau Anda tahu membacanya. Kode ukuran memberi tahu lebar, rasio, dan velg; indeks beban dan simbol kecepatan memberi tahu batas amannya; empat angka kode produksi memberi tahu umurnya; dan segitiga TWI memberi tahu kapan tapaknya habis. Tambahkan patokan usia sekitar dua tahun dari Astra Honda dan Yamaha, plus disiplin mengisi tekanan sesuai stiker motor, maka Anda sudah memegang hampir semua yang perlu untuk tidak salah beli dan tidak telat ganti. Kalau Anda kebetulan sedang menimbang motor bekas, kondisi dan usia bannya wajib ikut diperiksa seperti diulas di panduan beli motor bekas, dan untuk memilih tempat pasang yang jujur, ada pertimbangannya di cara memilih bengkel motor. Komponen habis pakai lain yang perlu dipahami dengan cara serupa, dari aki motor sampai kopling motor bebek dan sport, bisa Anda telusuri lewat kumpulan artikel perawatan lainnya di OtoTerkini.
Sumber
- PT Astra Honda Motor, Cara Membaca Informasi Ban Sepeda Motor (kode 80/90-14 M/C 41P: 80 lebar ban dalam mm, 90 aspect ratio sehingga 90% x 80 = 72 mm, M/C Medium Compound, 14 ring velg dalam inci, 41 load index setara maksimal 150 kg, P speed index sampai 150 km per jam; kode metric dan imperial; kode 2421 berarti diproduksi minggu ke-24 tahun 2021; ban tidak sesuai spesifikasi memengaruhi handling, performa, konsumsi BBM, dan pengereman)
- PT Astra Honda Motor, Mudik Naik Motor, Ganti Ban Dulu di AHASS (Tread Wear Indicator/TWI adalah tanda batas keausan; jika kembang ban menyentuh tanda segitiga TWI sangat disarankan segera diganti karena daya cengkeram tak lagi maksimal; tekanan angin berlebih membuat ban keras sehingga keseimbangan terganggu dan muncul getaran, tekanan dikurangi tidak disarankan untuk pemakaian jauh; usia ban motor idealnya maksimal 2 tahun atau 12.000 km, lebih dari itu disarankan diganti walau keausan belum mencapai batas)
- PT Yamaha Indonesia Motor Mfg., Mengenal Arti Kode pada Ban Motor dengan Benar (format metric 80/90-14 M/C 41P dan 120/70-17 M/C 58S: angka pertama lebar mm, kedua aspect ratio persen, setelah tanda hubung diameter velg inci; indeks beban 58 setara sekitar 236 kg, huruf akhir simbol kecepatan H/S/V; format imperial 2.75-H-19 4PR memakai inci dan ply rating; label Tubeless tidak perlu ban dalam, Tube type wajib ban dalam; huruf R radial; TIN/DOT empat digit terakhir minggu dan tahun, contoh 4714 minggu 47 tahun 2014 dan 2319 minggu 23 tahun 2019; TWI tinggi 1,6 mm ambang batas; MAX LOAD dan MAX PRESS batas struktur bukan rekomendasi, tekanan kerja ikuti manual atau stiker kendaraan; M/C penanda khusus sepeda motor, sebagian penjelasan lokal mengartikan Medium Compound)
- PT Yamaha Indonesia Motor Mfg., Tips Merawat Ban Motor Agar Awet & Tidak Cepat Aus (kompon karet kehilangan elastisitas setelah sekitar dua tahun; rem mendadak menimbulkan flat spot dan permukaan getas; pemasangan pelek miring memicu keausan asimetris, shock terlalu keras membuat aus sebelah; periksa tekanan angin tiap minggu atau sebelum perjalanan jauh diukur saat ban dingin sesuai rekomendasi pabrikan; periksa pentil dan tutupnya untuk cegah kebocoran perlahan; jangan melebihi indeks beban; rotasi, balancing, dan pemeriksaan tiap 10.000 km; ganti bila tapak mendekati batas TWI atau usia dua tahun atau ada retak)
- Michelin Indonesia, Penjelasan tentang penandaan ban: Bagaimana cara membaca ban (lebar dalam mm, aspect ratio persen, diameter velg inci; indeks beban kode beban maksimal per ban dalam kg, peringkat kecepatan kode kecepatan maksimal; Tubeless tidak perlu ban dalam dan lebih ringan, lebih hemat bahan bakar, lebih andal, Tube type wajib ban dalam; MAX LOAD dan MAX PRESS bukan nilai untuk kendaraan, acuan tekanan adalah rekomendasi produsen kendaraan di manual atau stiker; kode tanggal di kolom TIN diawali DOT persyaratan Department of Transport AS, empat angka minggu lalu tahun, contoh 4714 minggu 47 tahun 2014; indikator keausan bubungan setinggi 1,6 mm di antara alur, ganti saat tapak sejajar; periksa ban minimal sebulan sekali dan sebelum perjalanan jauh)