Terkini
Jelajahi 🔍

Review Honda Scoopy: Skutik Retro Paling Fashionable, Bukan yang Terkencang

Oleh Rangga Prawira14 Juli 20265 menit bacaMotor
Honda ScoopyRp 20,5 jutaHarga OTR Jakarta

Foto: Honda Scoopy oleh Firzafp (CC BY 4.0)

Kesimpulan singkatScoopy tetap jadi raja skutik retro-fashion: desainnya ikonik, fitur Smart Key hadir di tipe atas, dan garansi rangka 5 tahun menenangkan. Harga OTR Rp 20,5 juta wajar, meski tenaga 109,5 cc-nya memang lebih menonjolkan gaya ketimbang performa.

Skor Kategori

Desain9/100
Fitur & Teknologi8/100
Kenyamanan Harian8/100
Nilai Harga8/100
Kepraktisan Kota9/100

Skor rata-rata: 8/100. Skor ini adalah penilaian editorial OtoTerkini berdasarkan data spesifikasi resmi dan pengamatan praktis, bukan rating pengguna.

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan
  • Desain retro-fashionable paling ikonik di kelas skutik 110 cc
  • Mesin 109,5 cc eSP halus untuk pemakaian dalam kota
  • Fitur Honda Smart Key dan panel digital di tipe atas
  • Garansi rangka 5 tahun dari AHM menambah rasa aman
  • Harga OTR Rp 20,5 juta seragam untuk semua warna
Kekurangan
  • Tenaga 9,0 PS lebih mengutamakan gaya daripada akselerasi kencang
  • Roda 12 inci terasa kurang mantap di jalan bergelombang dibanding roda besar
  • Bagasi lebih kecil dibanding maxi-skutik seperti NMAX atau PCX

Cocok untuk Siapa

Pengendara perkotaan, khususnya anak muda dan pekerja, yang mengutamakan tampilan bergaya, kepraktisan, dan kepraktisan harian dibanding kecepatan maksimum.

Kesimpulan

Kalau kamu mencari skutik yang tampil beda, praktis, dan bernilai jual tinggi tanpa menuntut performa sport, Honda Scoopy Rp 20,5 juta adalah pilihan yang sulit ditolak.

Lihat harga dan spesifikasiCek harga OTR dan spesifikasi lengkap Honda Scoopy di katalog.
Mau kendaraan ini? Hitung dulu cicilannyaPakai simulasi kredit kami, atau tanya tim untuk arahan pembiayaan.Tanya via WhatsApp
RP
Rangga PrawiraEditor Uji Jalan. Menangani konten review dan komparasi kendaraan. Fokus pada pengujian yang bisa diukur ulang: konsumsi bahan bakar, ruang kabin, dan biaya kepemilikan, bukan sekadar kesan subjektif.