Terkini
Jelajahi 🔍

Busi Motor: Ciri Sudah Aus dan Pilihan Tipenya

Oleh Tim Redaksi OtoTerkini10 Agustus 202617 menit bacaPerawatan
Busi Motor: Ciri Sudah Aus dan Pilihan Tipenya
Ilustrasi: OtoTerkini (AI)
Jawaban singkatBusi motor adalah komponen habis pakai, dan patokan gantinya ada di buku pedoman motor Anda, bukan di feeling montir. Astra Honda, merujuk Buku Pedoman Pemilik Sepeda Motor Honda, menyebut untuk skutik premium 160 series (Vario 160, Stylo 160, PCX 160, ADV 160) busi disarankan diperiksa setiap 6.000 km atau 6 bulan sekali dan diganti setiap kelipatan 12.000 km atau 12 bulan sekali, tergantung mana yang tercapai lebih dahulu, dan Astra Honda menegaskan jadwal ini berbeda dengan motor 125cc ke bawah. Yamaha memakai angka lain, yaitu memeriksa busi setiap 5.000 km atau sesuai manual, dengan penggantian busi standar setiap 8.000 km dan busi iridium atau platinum sekitar 20.000 km. Tanda busi aus konsisten disebut kedua pabrikan: mesin sulit dihidupkan, mesin brebet, tarikan hilang, dan konsumsi bensin naik. Soal upgrade ke iridium, jujur saja: NGK tidak pernah menerbitkan angka persentase peningkatan tenaga di halaman resminya, yang dijanjikan adalah usia pakai lebih panjang, dan NGK sendiri menulis bahwa untuk sebagian besar kendaraan, heat range rekomendasi pabrik sudah mencukupi. Sebelum memvonis busi, ingat peringatan NGK bahwa carbon fouling adalah kegagalan busi yang paling umum tetapi bukan kesalahan businya.

Busi motor adalah komponen paling murah yang paling sering disalahkan, dan paling sering dijadikan solusi untuk masalah yang bukan miliknya. Polanya khas: motor mulai susah distarter pagi hari, tarikan terasa hilang, bensin terasa lebih boros, lalu pemiliknya mampir ke bengkel dan pulang dengan busi baru. Kadang sembuh. Kadang dua minggu kemudian keluhannya kembali persis sama, dan busi barunya sudah hitam lagi. Yang kedua itu bukan busi jelek, melainkan busi yang sedang melaporkan sesuatu tentang mesin Anda dan tidak ada yang membaca laporannya. Artikel ini menata ulang urusan busi berdasarkan angka yang diterbitkan sendiri oleh pabrikan motornya (Astra Honda dan Yamaha) dan oleh pembuat businya (NGK): apa sebenarnya kerja busi, kapan resminya diganti, apa ciri busi sudah aus, apakah upgrade ke iridium benar-benar balik modal, cara membaca warna elektroda, dan kapan mengganti busi justru bukan jawabannya.

Patokan cepat Honda skutik premium 160 series: busi diperiksa tiap 6.000 km atau 6 bulan, diganti tiap kelipatan 12.000 km atau 12 bulan, mana yang tercapai lebih dahulu (Astra Honda, merujuk buku pedoman pemilik). Yamaha: periksa tiap 5.000 km, ganti busi standar tiap 8.000 km, iridium atau platinum sekitar 20.000 km. Angka kedua pabrikan berbeda, dan itu wajar, karena yang mengikat Anda adalah buku pedoman motor Anda sendiri. Elektroda abu-abu atau merah bata menurut Astra Honda berarti normal. Insulator putih berbintik menurut NGK berarti kepanasan, dan itu masalah mesin, bukan masalah busi.

Apa yang sebenarnya dikerjakan busi motor

Definisi resminya lugas. Astra Honda menyebut busi pada sepeda motor berfungsi meneruskan tegangan listrik yang disalurkan oleh ignition coil (koil pengapian) menjadi percikan api untuk membakar campuran udara dan bensin di ruang bakar. Yamaha menjelaskan hal yang sama dengan bahasa berbeda, yaitu busi menghasilkan percikan api listrik yang memicu pembakaran campuran udara dan bahan bakar, dan proses itulah yang mengubah energi kimia menjadi energi mekanis. Ledakan terkendali itu yang mendorong piston, dan itulah seluruh tenaga motor Anda.

Yang jarang dijelaskan adalah beban kerjanya. Busi bukan sekadar pemantik. Ia hidup permanen di dalam ruang bakar, menerima panas pembakaran ribuan kali per menit, dan harus membuang panas itu ke kepala silinder pada laju tertentu. Di sinilah muncul konsep yang paling sering disalahpahami, yaitu heat range, dan NGK menegaskannya dengan kalimat yang tegas di halaman resminya: heat range hanya menunjukkan laju busi membuang panas ujung pembakarannya ke mesin. Tidak lebih.

NGK bahkan repot-repot meluruskan dua salah kaprah sekaligus, dan keduanya disebutnya salah. Pertama, anggapan bahwa heat range berhubungan dengan suhu atau intensitas percikan api. Kedua, anggapan bahwa busi dirancang sebagai heat sink untuk membuang panas dari ruang bakar. Menurut NGK, keduanya keliru. Busi dipanaskan oleh pembakaran, lalu harus melepas panas itu ke kepala silinder pada laju tertentu supaya ujung keramiknya tidak kepanasan. Jadi kalau ada yang menawari Anda busi dengan alasan "apinya lebih besar karena nomornya lebih tinggi", orang itu sedang menjual salah kaprah nomor satu.

Ada rentang suhu kerja yang harus dijaga, dan NGK menerbitkan angkanya. Rentang suhu operasi optimal busi adalah 450 sampai 870 derajat Celsius. Batas bawahnya, 450 derajat, disebut NGK sebagai spark plug self cleaning temperature, yaitu suhu saat endapan karbon terbakar habis dengan sendirinya. Batas atasnya juga punya konsekuensi: menurut NGK, ketika suhu busi melewati 870 derajat Celsius, ujung pembakarannya berubah menjadi sumber panas sebelum percikan terjadi dan memicu pembakaran abnormal (pre-ignition) yang berpotensi merusak piston. Jadi busi punya jendela kerja, dan seluruh urusan memilih busi sebenarnya adalah urusan menjaga businya tetap berada di dalam jendela itu.

Interval ganti busi motor menurut pabrikan

Sekarang angkanya. Astra Honda menerbitkan interval yang paling spesifik, dan menariknya, Astra Honda membatasi konteksnya sendiri. Merujuk Buku Pedoman Pemilik Sepeda Motor Honda, Astra Honda menjelaskan bahwa sepeda motor premium Honda seperti Vario 160, Stylo 160, PCX 160, dan ADV 160 memiliki jadwal perawatan berkala yang berbeda dengan sepeda motor 125cc ke bawah. Untuk unit 160 series itu, berdasarkan jadwal perawatan berkala, busi disarankan untuk diperiksa setiap 6.000 km atau 6 bulan sekali dan diganti setiap kelipatan 12.000 km atau 12 bulan sekali, tergantung mana yang tercapai lebih dahulu.

Perhatikan dua hal di kalimat itu. Pertama, ada pemisahan tegas antara diperiksa dan diganti. Busi tidak diganti tiap kali motor masuk bengkel, ia diperiksa dulu di 6.000 km, dan baru diganti di 12.000 km. Kedua, ada frasa "tergantung mana yang tercapai lebih dahulu", persis seperti pada urusan kapan ganti oli mesin. Artinya ada dua batas yang berjalan paralel, batas jarak dan batas waktu, dan yang tersentuh duluan itulah yang berlaku. Motor yang setahun cuma menempuh 4.000 km tetap ganti busi di bulan ke-12.

Yamaha memberi angka yang berbeda, dan perbedaan ini penting untuk dijelaskan apa adanya ketimbang dirapikan seolah semua pabrikan sepakat. Yamaha menyarankan mengecek kondisi busi secara berkala setiap 5.000 km atau sesuai dengan petunjuk di manual motor, lalu menyebut busi standar biasanya perlu diganti setiap 8.000 km, sementara busi iridium atau platinum memiliki umur pakai yang lebih lama, sekitar 20.000 km. Di artikel Yamaha yang lain, angkanya dinyatakan sebagai rentang: pada umumnya busi motor perlu diganti setiap 10.000 sampai 20.000 kilometer, tergantung jenis dan kondisi pemakaian.

Sumber resmiPeriksaGantiKonteks yang disebut
Astra Honda6.000 km / 6 bulan12.000 km / 12 bulanSkutik premium 160 series: Vario 160, Stylo 160, PCX 160, ADV 160. Dinyatakan berbeda dengan motor 125cc ke bawah
Yamaha5.000 km atau sesuai manual8.000 km (busi standar)Busi standar berelektroda nikel atau tembaga
Yamaha5.000 km atau sesuai manualSekitar 20.000 km (iridium / platinum)Busi premium, umur pakai lebih panjang
Yamaha (artikel lain)-10.000 sampai 20.000 kmDisebut sebagai patokan umum, tergantung jenis dan kondisi pemakaian

Jadi mana yang benar? Semuanya, untuk motor yang dimaksud masing-masing. Ini bukan sumber yang saling membantah, melainkan bukti bahwa interval busi itu spesifik per tipe motor dan per jenis busi. Astra Honda bahkan sudah memagari klaimnya sendiri dengan menyebut bahwa 160 series berbeda dari 125cc ke bawah. Yamaha memisahkan angka busi standar dari busi iridium. Karena itu satu-satunya angka yang benar-benar mengikat Anda adalah angka di buku pedoman motor Anda, dan Astra Honda menutup artikelnya persis dengan saran itu, yaitu agar pemilik melihat komponen yang perlu penggantian di buku pedoman kepemilikan sepeda motor Honda. Kalau Anda sedang menghitung ongkos rutin ini bersama oli, ban, dan pajak, masukkan ke kalkulator biaya kepemilikan kendaraan supaya bebannya terlihat utuh dalam setahun.

Satu catatan tambahan supaya angka di atas tidak dibaca sebagai tanggal kedaluwarsa. Yamaha menyebut busi bisa aus lebih cepat kalau motor sering dipakai di jalanan penuh kemacetan atau kondisi jalan yang buruk, dan menambahkan dua penyebab lain, yaitu kualitas bahan bakar yang rendah atau oktan yang tidak sesuai spesifikasi mesin (yang menimbulkan endapan karbon di sekitar elektroda), serta mesin yang sering overheat sehingga elektroda busi rusak. Pemeriksaan busi ini idealnya menempel pada jadwal servis motor rutin, bukan dikerjakan sebagai kunjungan darurat.

Ciri busi motor sudah aus

Untungnya busi jarang mati mendadak tanpa peringatan. Astra Honda dan Yamaha sama-sama menerbitkan daftar cirinya, dan daftar mereka saling menguatkan.

Mesin sulit dihidupkan. Astra Honda menyebut ini tanda pertama, baik saat memakai starter elektrik maupun saat diengkol, dan penyebab utamanya adalah percikan api yang dihasilkan busi tidak mencukupi untuk memicu pembakaran di dalam mesin. Yamaha menajamkan kapan gejalanya paling terasa: terutama di pagi hari atau ketika mesin dalam keadaan dingin, sehingga mesin butuh beberapa kali percobaan untuk hidup.

Mesin brebet dan tidak stabil. Yamaha menyebutnya dengan istilah yang dipakai sehari-hari, yaitu brebet, dan menjelaskan mekanismenya: ketika busi tidak mampu menghasilkan percikan api yang konsisten, campuran bahan bakar dan udara tidak terbakar sempurna sehingga motor terasa tersendat atau kehilangan tenaga, terutama pada putaran mesin rendah.

Tarikan hilang dan performa menurun. Astra Honda menyebut kondisi busi yang aus dapat memengaruhi performa mesin secara keseluruhan, seperti penurunan tenaga atau sulit berakselerasi dengan cepat, dan mesin terasa lebih lemah saat menanjak atau berakselerasi di kecepatan tinggi. Astra Honda juga menyebut alasan teknisnya, yaitu terdapat perubahan jarak antara elektroda dan massa (ground) pada busi. Ini poin penting: celah busi melebar sendiri seiring elektroda terkikis, dan celah yang melebar menuntut tegangan lebih tinggi untuk melompat.

Konsumsi bensin naik tanpa sebab jelas. Astra Honda menyebut ini indikasi busi tidak layak pakai, karena keausan busi menimbulkan kondisi misfire sehingga pembakaran tidak sempurna dan banyak bahan bakar terbuang sia-sia, yang pada akhirnya justru membentuk endapan kotoran pada ujung insulator busi atau elektroda. Yamaha menyebut hal senada, bahwa busi lemah tidak mampu membakar bahan bakar secara efisien sehingga mesin butuh lebih banyak bensin untuk tenaga yang sama.

Suara mesin tidak normal. Astra Honda memberi catatan spesifik yang sering terlewat, yaitu gejala ini relevan pada sepeda motor yang memiliki silinder lebih dari satu: kalau suara mesin terdengar kasar dan muncul getaran tidak biasa, salah satu kemungkinannya kerusakan busi, karena busi rusak berpengaruh pada fungsi silinder. Kondisi ini sering disebut mesin pincang.

Selain gejala berkendara, ada dua pemeriksaan fisik yang bisa Anda lakukan sendiri. Astra Honda menyebut busi yang masih dalam kondisi baik bisa dilihat dari bentuk elektrodanya yang masih berbentuk kotak, karena bagian ini paling cepat terkikis akibat panas percikan api, dan jika bentuk elektroda sudah berubah artinya elektroda busi motor sudah aus dan perlu diganti. Yang kedua adalah warna, yang dibahas di bagian tersendiri di bawah karena informasinya jauh lebih kaya daripada sekadar "ganti atau tidak".

Soal membersihkan busi, Astra Honda memberi rambu yang layak digarisbawahi karena banyak dilanggar. Bersihkan endapan karbon sisa pembakaran yang menempel pada ujung elektroda menggunakan cairan semprot yang bersifat non-metal seperti brake cleaner, dan hindari penggunaan amplas serta cairan yang bersifat abrasif terhadap karat, karena bisa mengikis permukaan plating atau elektroda busi. Jadi kebiasaan mengamplas busi sampai mengilap itu bukan perawatan, melainkan mempercepat kematiannya.

Standar, iridium, atau platinum: harga dan apakah upgrade-nya balik modal

Ini bagian yang paling ramai di konter sparepart, dan bagian yang paling perlu kejujuran. Mari mulai dari apa yang benar-benar dinyatakan resmi.

Yamaha membagi busi untuk motornya menjadi tiga. Busi standar berbahan elektroda nikel atau tembaga, disebut cocok untuk motor harian yang tidak membutuhkan performa ekstra, dan Yamaha mencontohkan Yamaha Mio serta Yamaha NMAX sebagai motor yang sering memakai busi standar karena memberikan kinerja yang stabil untuk kebutuhan sehari-hari. Busi iridium disebut busi premium dengan elektroda lebih kecil dan tipis sehingga menghasilkan percikan api yang lebih baik dan konsisten, dicontohkan untuk Yamaha R15 atau MT-25. Busi platinum disebut tidak sekuat busi iridium tetapi menawarkan umur pakai lebih lama dan pembakaran lebih konsisten, dicontohkan pada Yamaha Aerox atau XMAX.

Dari NGK, angka fisiknya jelas dan menjelaskan kenapa logam mulia dipakai. NGK menerbitkan titik lebur ketiganya: Iridium 2.410 derajat Celsius, Platinum 1.772 derajat Celsius, dan Nikel 1.453 derajat Celsius. Titik lebur yang jauh lebih tinggi itulah yang memungkinkan diameter elektroda tengah diperkecil dari 2,5 mm pada nikel menjadi 0,6 mm pada iridium atau platinum. Menurut NGK, ujung yang lebih halus membuat inti nyala api tidak terhalang massa elektroda besar yang menyerap panas dan menghalangi rambatan api, sehingga pembakarannya lebih tuntas. NGK menyebut dua manfaat utama busi logam mulia: High Ignitability dan Long Service Life, dengan hasil berupa akselerasi lebih baik, konsumsi bahan bakar lebih baik, dan langsam lebih halus.

Yang tidak dicetak OtoTerkini, dan alasannya Artikel resmi Yamaha soal busi memuat dua angka yang menarik: klaim bahwa menurut data Yamaha Technical Academy busi ideal dapat meningkatkan efisiensi pembakaran hingga 30 persen, dan klaim bahwa menurut penelitian NGK Spark Plug busi iridium dapat meningkatkan efisiensi bahan bakar hingga 15 persen. OtoTerkini tidak mengutip dua angka itu sebagai fakta. Alasannya, keduanya disebut tanpa tautan ke dokumen sumbernya, dan halaman teknis resmi NGK sendiri sama sekali tidak mencantumkan persentase apa pun untuk busi logam mulia. Yang NGK nyatakan hanyalah manfaat kualitatif (High Ignitability dan Long Service Life). Kami juga tidak memakai angka usia pakai iridium dari situs ngk.com, karena situs itu menyatakan sendiri di kepala halamannya bahwa mereka bukan NGK Spark Plugs USA, jadi itu penjual, bukan pabrikan.

Jadi, apakah iridium balik modal untuk motor harian standar? Ini jawaban yang jujur, dan bukan jawaban yang menyenangkan penjual. Manfaat iridium yang punya dasar angka resmi adalah usia pakai, bukan tenaga. Bandingkan sendiri dari data Yamaha: busi standar diganti sekitar 8.000 km, iridium atau platinum sekitar 20.000 km. Artinya satu busi iridium menggantikan sekitar dua setengah busi standar. Kalau harganya kurang dari dua setengah kali harga busi standar, secara ongkos per kilometer Anda menang, ditambah bonus jarang bongkar. Kalau harganya lima kali lipat, Anda membayar untuk kenyamanan, bukan untuk penghematan. Hitungannya sesederhana itu, dan Anda bisa melakukannya sendiri di konter dengan harga yang benar-benar Anda hadapi.

Soal tenaga, perhatikan bahwa Yamaha sendiri menempatkan busi standar pada Mio dan Yamaha NMAX 155, dan menaruh iridium pada R15 dan MT-25 yang memang motor performa tinggi. Kalau iridium adalah upgrade gratis tenaga untuk semua motor, pabrikan tidak akan memasang busi nikel pada motor yang mereka jual sendiri. Ada dua rambu keras lagi yang datang dari NGK. Pertama, NGK menyatakan bahwa untuk sebagian besar kendaraan, heat range rekomendasi pabrik sudah mencukupi, dan heat range alternatif hanya diperlukan pada sebagian mesin yang dimodifikasi atau berpenggunaan khusus. Kedua, NGK menutup dengan kalimat yang seharusnya ditempel di setiap konter busi: memasang busi dengan heat range lebih panas akan mengurangi margin keamanan terhadap pre-ignition, sehingga lebih baik memperbaiki masalah mekanis atau setelannya ketimbang mengubah heat range businya.

Maka aturan mainnya bukan "iridium lebih bagus dari nikel", melainkan "busi yang sesuai spesifikasi lebih bagus dari busi yang tidak sesuai spesifikasi". Yamaha mencontohkan spesifikasi konkret, yaitu NMAX direkomendasikan memakai busi tipe CR8E dari NGK, dan menyebut penggunaan busi dengan tipe berbeda dari spesifikasi bisa menyebabkan pembakaran tidak sempurna dan memengaruhi performa mesin. Busi iridium dengan heat range yang salah bukan upgrade, itu downgrade yang mahal. NGK merangkumnya dalam satu kalimat: penting untuk memakai busi yang sesuai dengan mesin tertentu dan kondisi pemakaiannya.

Harga busi motor dan kenapa OtoTerkini tidak memberi angka pasti

Di titik ini Anda mungkin mengharapkan tabel harga. Kami tidak memberikannya, dan alasannya justru informasi yang berguna saat Anda berhadapan dengan penjual. Berbeda dari pelumas, yang produsennya mencantumkan HET (harga eceran tertinggi) di halaman resmi seperti pada kasus oli MPX dan SPX Honda, kami tidak menemukan HET busi yang diterbitkan pembuatnya di halaman resmi yang bisa kami verifikasi. Halaman teknis resmi NGK memuat heat range, celah elektroda, logam mulia, dan pemasangan, tanpa kolom harga sama sekali. Menuliskan angka seolah-olah harga resmi hanya akan menyesatkan Anda, dan itu melanggar aturan dasar kami sendiri.

Yang bisa dinyatakan jujur adalah polanya, dan pola itu cukup untuk menakar kewajaran penawaran. Harga busi bergerak mengikuti tiga hal. Pertama, bahan elektrodanya: nikel paling murah, platinum di tengah, iridium paling mahal, dan urutan itu mengikuti urutan titik lebur yang diterbitkan NGK. Kedua, kesesuaian aplikasinya: busi dengan kode yang persis diminta motor Anda kadang lebih mahal dari busi "yang mirip", dan selisih itu justru yang layak dibayar. Ketiga, merek dan penjualnya: bengkel resmi, toko sparepart, dan marketplace punya struktur harga masing-masing, sehingga selisih antarpenjual untuk kode yang sama adalah hal normal. Hitunglah ongkosnya per kilometer, bukan per unit, dan pastikan yang Anda bandingkan benar-benar kode yang sama persis.

Membaca kode busi dan celah elektroda

Di titik ini banyak artikel akan menyodorkan tabel pemecah kode huruf demi huruf untuk CPR9EA-9 atau CR8E dengan sangat percaya diri. OtoTerkini memilih tidak melakukannya, dan alasannya sama seperti pada pembahasan kode aki di panduan aki motor: pembuatnya tidak menerbitkan tabel semacam itu di halaman resmi yang bisa kami baca dan verifikasi. Situs teknis resmi NGK yang bisa diakses memuat halaman terpisah untuk heat range, celah elektroda, proyeksi, logam mulia, dan pemasangan, tetapi tidak memuat kamus huruf demi huruf untuk publik. Yang diterbitkan NGK adalah katalog aplikasi dan alat Part Finder per nomor part.

Yang bisa dinyatakan resmi hanyalah bagian angka heat range-nya, dan itu pun perlu ketelitian. Menurut NGK, heat range busi NGK umumnya berkisar antara 2 sampai 11, dan angka itu menunjukkan karakteristik termal businya, yaitu seberapa panas atau dingin sebuah busi. Arahnya berlawanan dengan intuisi banyak orang: angka lebih besar berarti busi lebih dingin. NGK memberi ilustrasi ekstremnya. Mesin bertenaga rendah seperti mesin pemotong rumput tidak menghasilkan banyak panas sehingga memakai busi heat range rendah (panas), misalnya heat range 4, supaya businya mudah mencapai suhu kerja optimal. Mesin berperforma tinggi menghasilkan panas besar sehingga butuh busi heat range tinggi (dingin), misalnya heat range 10, untuk melawan panas yang dihasilkan mesin.

NGK juga menerbitkan apa yang terjadi kalau salah pilih, dan ini menjelaskan kenapa gaya-gayaan mengganti angka heat range itu berbahaya. Kalau heat rating terlalu tinggi (businya terlalu dingin untuk mesin itu), suhu busi tetap terlalu rendah sehingga endapan menumpuk di ujung pembakaran, dan endapan itu memberi jalur kebocoran listrik yang menyebabkan hilangnya percikan. Kalau heat rating terlalu rendah (businya terlalu panas), suhu busi naik terlalu tinggi dan memicu pembakaran abnormal (pre-ignition), yang menurut NGK berujung pada melelehnya elektroda busi serta piston seizure dan erosi. Perhatikan bahwa dua-duanya berakhir buruk, dan yang kedua berakhir di piston, bukan di busi.

Rangkumnya begini, dan ini layak diingat saat ada yang menawari Anda busi bernomor lain. Angka heat range bukan ukuran kekuatan api, melainkan laju busi melepas panas. Angkanya berkisar 2 sampai 11, makin besar makin dingin. Untuk sebagian besar kendaraan, kata NGK, heat range rekomendasi pabrik sudah mencukupi. Jadi kalau motor Anda standar, jangan mengubah angka itu.

Soal celah elektroda atau busi-gap, NGK menyatakan bahwa celah elektroda menentukan besaran percikan, dan celah yang tidak tepat dapat memengaruhi performa mesin karena besaran percikannya mungkin tidak cukup untuk memastikan pembakaran sempurna campuran udara dan bahan bakar. Kabar baiknya, celah itu dikontrol ketat saat busi diproduksi, dan menurut NGK dalam sebagian besar kasus celah elektrodanya sudah disetel sesuai kendaraan seperti direkomendasikan di katalog. Hanya pada sebagian kecil kasus celah perlu disetel, dan NGK menyarankan untuk selalu memeriksa buku pedoman pemilik lebih dahulu. NGK menambahkan satu perkecualian yang relevan untuk mesin modifikasi: mesin dengan kompresi lebih tinggi atau induksi paksa umumnya menuntut setelan celah yang lebih kecil, karena kebutuhan tegangan di celah meningkat akibat tekanan pembakaran yang lebih tinggi.

Karena itu OtoTerkini tidak mencantumkan satu angka celah dalam milimeter yang berlaku untuk semua motor, sebab tidak ada angka semacam itu dan pabrikannya sendiri mengarahkan Anda ke buku pedoman. Saran praktisnya tiga langkah dan tidak bisa meleset. Pertama, buka buku pedoman motor Anda atau lepas busi lama dan catat kodenya persis. Kedua, beli kode yang sama, atau padanannya dari Part Finder resmi pembuat businya. Ketiga, kalau ada yang menyarankan naik atau turun angka heat range untuk motor harian standar Anda, tolak dengan sopan dan tanyakan masalah apa yang sedang ia coba selesaikan, karena NGK sendiri bilang perbaiki masalahnya, bukan businya.

Membaca warna elektroda: yang Anda baca itu kondisi mesin

Inilah kegunaan busi yang paling diremehkan. Busi adalah satu-satunya komponen yang bisa Anda cabut dan lihat langsung untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam ruang bakar. Astra Honda menyatakannya persis begitu: ujung elektroda bisa dijadikan alat bantu untuk mendiagnosa apa yang terjadi di ruang bakar, dan melalui warna ujung elektroda busi yang terbakar setidaknya bisa diketahui apakah proses pembakaran bekerja normal atau tidak. NGK menyatakan hal yang sama dengan lebih tajam: tampilan ujung pembakaran mencerminkan kesesuaian businya sekaligus kondisi mesinnya, dengan tiga kriteria dasar, yaitu good, fouled, dan overheated.

TampilanArtinya menurut sumber resmiYang perlu diperiksa
Abu-abu atau merah bataAstra Honda: busi dalam kondisi baik dan normal, pembakaran di ruang bakar optimalTidak ada. Pasang kembali
Cokelat mudaYamaha: menandakan pembakaran yang sempurnaTidak ada
Hitam kering, berkerak karbonYamaha: menandakan adanya masalah pada sistem bahan bakar atau pengapian. NGK: carbon fouling, kegagalan terkait busi yang paling umum, tetapi bukan kesalahan businyaBusi terlalu dingin untuk mesin itu, setelan bahan bakar terlalu kaya, kualitas bensin, sistem pengapian
Basah oleh oli atau bensinAstra Honda: kepala busi terlapisi oli mesin yang rembes atau bensin yang tak terbakar sempurnaKebocoran oli mesin, ring kompresi aus, seal katup rusak, injektor bermasalah
Insulator putih berbintikNGK: ciri busi yang kepanasan (overheated). Elektroda meleleh berarti kepanasan berlebihanSetelan campuran terlalu kurus akibat sistem bahan bakar bermasalah, sistem pendingin, timing pengapian terlalu awal, endapan di ruang bakar

Perhatikan kolom paling kanan. Hampir tidak ada barisnya yang solusinya "ganti busi". Ini bukan kelalaian tabel, melainkan intinya. Mari ambil dua kasus ekstremnya.

Untuk busi hitam berkerak, NGK menyebut carbon fouling sebagai kegagalan terkait busi yang paling umum, tetapi langsung menambahkan bahwa itu bukan kesalahan businya. Mekanismenya dijelaskan: endapan karbon bersifat konduktif, dan ketika menumpuk di sepanjang insulator nose ia menurunkan resistansi isolasi busi, sehingga listrik yang selalu memilih jalur paling kecil hambatannya merambat lewat endapan karbon ke metal shell alih-alih melompat di celah elektroda. Hasilnya misfire. Penyebab paling umumnya, menurut NGK, adalah busi yang terlalu dingin dipakai sehingga suhu 450 derajat Celsius (suhu self-cleaning) tidak pernah tercapai dan karbonnya tidak pernah terbakar habis.

Untuk insulator putih, NGK menyebut busi yang kepanasan punya permukaan insulator putih di ujung pembakaran dengan endapan berbintik, dan elektroda yang meleleh menandakan kepanasan yang berlebihan. Penyebabnya yang disebut NGK bukan businya: setelan campuran udara-bahan bakar yang kurus akibat sistem bahan bakar yang bermasalah dapat menaikkan suhu pembakaran, sistem pendingin mesin bisa bermasalah, timing pengapian yang terlalu awal menaikkan suhu pembakaran, dan endapan yang menumpuk di ruang bakar juga menaikkan suhu pembakaran. NGK menegaskan bahwa dalam kondisi mesin yang normal, businya tidak kepanasan.

Jadi kalau busi baru Anda dalam 2.000 km sudah hitam legam atau sudah putih pucat, Anda tidak sedang beruntung mendapat busi jelek. Anda sedang dikirimi laporan gratis tentang mesin Anda, dan mengganti businya lagi sama dengan merobek laporannya tanpa membaca.

Kalau ganti busi tidak menyelesaikan masalah

Bagian ini penting karena mencegah belanja berulang. Astra Honda menerbitkan daftar penyebab busi motor cepat rusak, dan yang mencolok adalah tidak satu pun dari penyebab utamanya adalah businya sendiri.

Kompresi mesin bocor. Astra Honda menyebut kebocoran kompresi menyebabkan hilangnya tekanan pada ruang pembakaran, dengan tanda yang bisa dirasakan berupa tenaga mesin ngempos, sistem pembakaran tidak berjalan maksimal, dan busi yang cepat mati. Perhatikan frasa terakhirnya: businya cepat mati sebagai akibat, bukan sebagai sebab.

Setelan bahan bakar kurang pas. Menurut Astra Honda, penggunaan bensin dengan kandungan timbal atau kotoran yang tinggi menyebabkan endapan karbon menempel pada elektroda sehingga menghambat pembentukan percikan api, dan setelan bensin yang salah membuat pasokan bensin di ruang bakar terlalu banyak sehingga selain boros, businya rusak. Cara mengeceknya disebut jelas: kalau setelan bahan bakar terlalu boros, biasanya bagian atas busi terlihat selalu basah. Astra Honda menambahkan bahwa masalah ini kerap melanda motor yang masih menggunakan sistem karburator.

Kerusakan sistem pengapian. Astra Honda menyebut koil pengapian yang lemah atau rusak menghasilkan tegangan yang tidak stabil sehingga percikan api yang dihasilkan busi menjadi lemah, dan kabel busi yang aus atau putus menyebabkan tegangan listrik bocor serta mengurangi kekuatan percikan. Artinya percikan lemah belum tentu businya. Bisa jadi yang lemah adalah yang memasok listriknya, persis seperti pada kasus aki motor yang cepat tekor yang sebenarnya masalah pengisian.

Injektor dan sistem bahan bakar. Pada artikel terpisah soal busi basah, Astra Honda menyebut kerusakan sistem injeksi bahan bakar memengaruhi proses pengembunan bahan bakar di ruang bakar, dan kondisi injector yang tidak berfungsi dengan baik dapat mengakibatkan bahan bakar berlebihan masuk ke ruang bakar sehingga busi menjadi basah. Di daftar yang sama Astra Honda juga menyebut kebocoran oli mesin yang merembes ke ruang bakar dari celah antara piston dan dindingnya, serta ring kompresi yang aus atau seal katup yang rusak. Semua itu urusan mesin, dan busi hanya alat ukurnya.

Pemasangan yang tidak benar. Ini penyebab yang paling menyakitkan karena murni bisa dihindari. Astra Honda menyebut pemasangan busi yang tidak pas, misalnya kurang kencang atau miring tidak sesuai jalur ulir, bisa menyebabkan hilangnya tenaga mesin dan businya rusak. NGK merinci fisikanya untuk dua arah kesalahan. Kalau busi kurang kencang, gas pembakaran bocor lewat bagian ulir, radiasi panas businya berkurang sehingga metal shell memanas, platingnya berubah warna, dan kalau terus kepanasan bisa memicu pembakaran abnormal. Kalau busi terlalu kencang, bagian leher ulir metal shell memanjang sehingga insulator dan metal tidak menyegel rapat, gas pembakaran bocor, dan businya kepanasan. NGK juga mengingatkan bahwa busi berdiameter kecil tipe D (12 mm) atau C (10 mm) lehernya tidak terlalu kuat sehingga torsinya harus diperhatikan khusus. Ini alasan bagus untuk memilih bengkel motor yang memakai kunci busi yang benar dan torsi terukur, bukan yang mengencangkan sekeras-kerasnya.

Urutan yang benar sebelum membeli busi baru Cabut busi lama dan baca warnanya dulu, karena menurut NGK tampilannya mencerminkan kondisi mesin, bukan cuma kondisi businya. Kalau hitam berkerak, curigai setelan bahan bakar, kualitas bensin, atau sistem pengapian. Kalau basah, curigai injektor, ring kompresi, atau seal katup. Kalau putih berbintik, curigai campuran terlalu kurus, pendinginan, atau timing. Kalau abu-abu, merah bata, atau cokelat muda dan bentuk elektrodanya masih kotak, businya sehat dan masalah Anda ada di tempat lain. Busi baru hanya jawaban kalau elektrodanya memang sudah terkikis atau intervalnya memang sudah jatuh tempo.

Kalau Anda sedang menimbang motor bekas, kondisi busi layak ikut dibuka saat pemeriksaan seperti dibahas di panduan beli motor bekas, karena busi adalah cara termurah mengintip kesehatan ruang bakar sebelum uang berpindah tangan. Penjual yang keberatan businya dicabut sudah memberi Anda satu informasi tersendiri.

Menutup semuanya, urusan busi motor bisa diringkas jadi tiga keputusan. Pertama, pakai interval dari buku pedoman motor Anda sendiri, karena Astra Honda menyebut 6.000 km untuk periksa dan 12.000 km untuk ganti pada skutik premium 160 series-nya, sementara Yamaha menyebut 8.000 km untuk busi standar dan sekitar 20.000 km untuk iridium, dan dua-duanya benar untuk motor yang mereka maksud. Kedua, beli berdasarkan kode yang diminta motor Anda, bukan berdasarkan logam yang paling mahal, karena NGK sendiri menyebut heat range rekomendasi pabrik sudah mencukupi untuk sebagian besar kendaraan. Ketiga, sebelum menyalahkan businya, baca dulu warnanya, karena NGK menyebut carbon fouling adalah kegagalan busi paling umum yang bukan kesalahan busi. Selebihnya, rawat yang wajar, jangan diamplas, dan telusuri artikel perawatan lainnya di OtoTerkini kalau ada komponen lain yang mulai memberi sinyal.

TR
Tim Redaksi OtoTerkiniRedaksi. Redaksi OtoTerkini menyusun konten katalog, harga, dan review data-assisted dengan merujuk sumber resmi produsen (APM) serta situs pemerintah untuk data pajak. Kami mencantumkan tautan sumber pada setiap angka yang ditampilkan.

Sumber

  1. PT Astra Honda Motor, Perawatan Sepeda Motor Premium Honda (merujuk Buku Pedoman Pemilik Sepeda Motor Honda: busi disarankan diperiksa setiap 6.000 km atau 6 bulan sekali dan diganti setiap kelipatan 12.000 km atau 12 bulan sekali, tergantung mana yang tercapai lebih dahulu; berlaku untuk premium 160 series Vario 160, Stylo 160, PCX 160, ADV 160 yang jadwalnya dinyatakan berbeda dengan motor 125cc ke bawah; busi meneruskan tegangan dari ignition coil menjadi percikan api)
  2. PT Astra Honda Motor, Ternyata Inilah Fungsi Busi Motor Beserta Cara Merawatnya (ujung elektroda bisa dijadikan alat bantu mendiagnosa ruang bakar; elektroda berwarna abu-abu atau merah bata berarti busi baik dan normal serta pembakaran optimal; elektroda yang masih berbentuk kotak berarti baik, bentuk berubah berarti aus dan perlu diganti; bersihkan dengan cairan semprot non-metal seperti brake cleaner, hindari amplas dan cairan abrasif karena mengikis plating atau elektroda)
  3. PT Astra Honda Motor, Identifikasi Kerusakan Pada Busi (ciri busi buruk: mesin sulit dihidupkan baik elektrik starter maupun diengkol karena percikan api tidak mencukupi; performa mesin menurun akibat perubahan jarak antara elektroda dan massa/ground; konsumsi bahan bakar meningkat karena misfire membentuk endapan pada ujung insulator atau elektroda; suara mesin tidak normal pada motor bersilinder lebih dari satu, disebut mesin pincang)
  4. PT Astra Honda Motor, Mengapa Busi Motor Cepat Rusak? Ini Penyebabnya (kompresi mesin bocor: tenaga ngempos dan busi cepat mati; setelan bahan bakar kurang pas: bensin bertimbal atau kotor menimbulkan endapan karbon, setelan boros membuat bagian atas busi selalu basah, kerap melanda motor karburator; kerusakan sistem pengapian: koil lemah menghasilkan tegangan tidak stabil, kabel busi aus atau putus membocorkan tegangan; pemasangan busi kurang kencang atau miring tidak sesuai jalur ulir)
  5. PT Astra Honda Motor, Penyebab Busi Basah (busi basah = kepala busi, elektroda dan insulator, terlapisi oli mesin yang rembes atau bensin yang tak terbakar sempurna; penyebab: kebocoran oli mesin merembes dari celah piston dan dindingnya, ring kompresi aus atau seal katup rusak, sistem injeksi bahan bakar rusak dengan injector yang tidak berfungsi baik sehingga bahan bakar berlebihan masuk ruang bakar, kualitas busi tidak sesuai spesifikasi, kondisi cuaca lembab pada motor yang jarang digunakan)
  6. PT Yamaha Indonesia Motor Mfg., Pentingnya Memilih Busi yang Tepat untuk Motor Yamaha (jenis busi: standar berelektroda nikel atau tembaga untuk harian seperti Mio dan NMAX, iridium berelektroda lebih kecil dan tipis untuk performa tinggi seperti R15 dan MT-25, platinum tidak sekuat iridium tetapi umur pakai lebih lama seperti pada Aerox dan XMAX; cek kondisi busi setiap 5.000 km atau sesuai manual; busi standar diganti setiap 8.000 km, iridium atau platinum sekitar 20.000 km; elektroda cokelat muda menandakan pembakaran sempurna, hitam atau penuh kerak menandakan masalah sistem bahan bakar atau pengapian; NMAX direkomendasikan busi NGK tipe CR8E)
  7. PT Yamaha Indonesia Motor Mfg., Ciri Busi Motor Lemah: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya (gejala: motor susah dinyalakan terutama pagi hari atau saat mesin dingin, mesin brebet atau tidak stabil terutama pada putaran mesin rendah, konsumsi bahan bakar meningkat, performa mesin menurun; penyebab: busi usang dengan patokan umum perlu diganti setiap 10.000 sampai 20.000 kilometer tergantung jenis dan kondisi pemakaian, kualitas bahan bakar rendah atau oktan tidak sesuai spesifikasi yang menimbulkan endapan karbon, serta overheating yang merusak elektroda)
  8. NGK Spark Plugs (Niterra North America), Understanding Spark Plug Heat Range (heat range hanya menunjukkan laju busi melepas panas ujung pembakarannya ke mesin; dua salah kaprah yang dinyatakan keliru: heat range terkait suhu atau intensitas percikan, dan busi dirancang sebagai heat sink untuk membuang panas dari ruang bakar; busi lebih panas punya jalur aliran panas lebih panjang, lebih dingin lebih pendek; untuk sebagian besar kendaraan heat range rekomendasi pabrik sudah mencukupi; memasang busi heat range lebih panas mengurangi margin keamanan pre-ignition sehingga lebih baik memperbaiki masalah mekanis atau setelannya ketimbang mengubah heat range)
  9. NGK Spark Plugs Australia (Niterra Australia), Heat Range (heat range busi NGK umumnya berkisar 2 sampai 11 dan menunjukkan karakteristik termal businya; mesin bertenaga rendah seperti pemotong rumput memakai heat range rendah atau panas seperti 4, mesin berperforma tinggi memakai heat range tinggi atau dingin seperti 10; heat rating terlalu tinggi membuat suhu busi tetap terlalu rendah sehingga endapan menumpuk dan memberi jalur kebocoran listrik yang menghilangkan percikan; heat rating terlalu rendah menaikkan suhu terlalu tinggi dan memicu pre-ignition yang melelehkan elektroda serta menyebabkan piston seizure dan erosi; penting memakai busi yang sesuai mesin dan kondisi pemakaiannya)
  10. NGK Spark Plugs Australia (Niterra Australia), Analysis (rentang suhu operasi optimal busi 450 sampai 870 derajat Celsius, dengan 450 derajat sebagai self cleaning temperature saat endapan karbon terbakar habis; carbon fouling adalah kegagalan terkait busi yang paling umum tetapi bukan kesalahan businya, endapan karbon bersifat konduktif dan menurunkan resistansi isolasi sehingga listrik merambat ke metal shell alih-alih melompat di celah; tampilan ujung pembakaran mencerminkan kesesuaian busi sekaligus kondisi mesin, tiga kriteria: good, fouled, overheated; busi kepanasan punya permukaan insulator putih dengan endapan berbintik, elektroda meleleh berarti kepanasan berlebihan, di atas 870 derajat ujung pembakaran menjadi sumber panas sebelum percikan dan memicu pre-ignition yang berpotensi merusak piston; penyebab pembakaran abnormal: setelan A-F kurus akibat sistem bahan bakar bermasalah, sistem pendingin bermasalah, timing terlalu awal, endapan di ruang bakar; busi kurang kencang membocorkan gas lewat ulir sehingga metal shell memanas dan platingnya berubah warna, busi terlalu kencang memanjangkan leher ulir sehingga segel bocor dan busi kepanasan; tipe D 12 mm dan C 10 mm lehernya tidak terlalu kuat)
  11. NGK Spark Plugs Australia (Niterra Australia), Precious Metal (titik lebur Iridium 2.410 derajat Celsius, Platinum 1.772 derajat Celsius, Nickel 1.453 derajat Celsius; memungkinkan diameter elektroda tengah mengecil dari 2,5 mm memakai Nickel menjadi 0,6 mm memakai Iridium atau Platinum; dua manfaat utama busi logam mulia: High Ignitability lewat ujung halus yang memperbaiki pertumbuhan nyala api, dan Long Service Life; hasilnya akselerasi lebih baik, konsumsi bahan bakar lebih baik, dan langsam lebih halus; tidak mencantumkan persentase peningkatan apa pun)
  12. NGK Spark Plugs Australia (Niterra Australia), Electrode Gap (celah elektroda menentukan besaran percikan, celah yang tidak tepat dapat memengaruhi performa mesin karena percikannya mungkin tidak cukup untuk pembakaran sempurna; celah dikontrol ketat saat produksi dan dalam sebagian besar kasus sudah disetel sesuai kendaraan seperti direkomendasikan di katalog; NGK menyarankan memeriksa buku pedoman pemilik; mesin modifikasi berkompresi tinggi atau induksi paksa umumnya menuntut celah lebih kecil karena kebutuhan tegangan meningkat)

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Busi motor diganti setiap berapa km?
Tergantung motor dan jenis businya, dan angkanya memang berbeda antarpabrikan. Astra Honda, merujuk Buku Pedoman Pemilik Sepeda Motor Honda, menyebut untuk sepeda motor premium 160 series (Vario 160, Stylo 160, PCX 160, ADV 160) busi disarankan diperiksa setiap 6.000 km atau 6 bulan sekali dan diganti setiap kelipatan 12.000 km atau 12 bulan sekali, tergantung mana yang tercapai lebih dahulu. Astra Honda juga menegaskan jadwal perawatan berkala unit ini berbeda dengan sepeda motor 125cc ke bawah. Yamaha memberi patokan berbeda: cek kondisi busi setiap 5.000 km atau sesuai petunjuk manual, ganti busi standar setiap 8.000 km, dan busi iridium atau platinum sekitar 20.000 km. Di artikel lain Yamaha menyebut patokan umum 10.000 sampai 20.000 km tergantung jenis dan kondisi pemakaian. Karena angkanya spesifik per tipe motor, yang mengikat Anda adalah angka di buku pedoman motor Anda sendiri.
Apa ciri busi motor sudah aus?
Astra Honda menyebut beberapa ciri: mesin sulit dihidupkan baik dengan starter elektrik maupun diengkol karena percikan api tidak mencukupi, performa mesin menurun seperti tenaga berkurang atau sulit berakselerasi (akibat perubahan jarak antara elektroda dan massa), konsumsi bahan bakar meningkat tanpa alasan jelas karena busi aus menimbulkan misfire, dan suara mesin tidak normal pada motor bersilinder lebih dari satu yang sering disebut mesin pincang. Yamaha menyebut tanda serupa: motor susah dinyalakan terutama pagi hari atau saat mesin dingin, mesin brebet atau tidak stabil terutama di putaran rendah, konsumsi bensin naik, dan performa mesin menurun. Secara fisik, Astra Honda menyebut busi yang masih baik terlihat dari bentuk elektrodanya yang masih berbentuk kotak, dan jika bentuknya sudah berubah artinya elektroda sudah aus dan perlu diganti.
Apakah busi iridium lebih bagus dan sepadan harganya untuk motor harian?
Manfaat iridium yang punya dasar angka resmi adalah usia pakai, bukan tenaga. NGK menerbitkan titik lebur iridium 2.410 derajat Celsius, platinum 1.772 derajat, dan nikel 1.453 derajat, yang memungkinkan diameter elektroda tengah mengecil dari 2,5 mm (nikel) ke 0,6 mm (iridium atau platinum), dan menyebut dua manfaatnya sebagai High Ignitability dan Long Service Life dengan hasil akselerasi lebih baik, konsumsi bahan bakar lebih baik, dan langsam lebih halus. Namun NGK tidak menerbitkan persentase peningkatan apa pun di halaman teknis resminya. Cara menakarnya secara ongkos: memakai angka Yamaha, busi standar diganti sekitar 8.000 km dan iridium sekitar 20.000 km, jadi satu iridium menggantikan sekitar dua setengah busi standar. Kalau harganya di bawah dua setengah kali, Anda menang di ongkos per kilometer. Perlu dicatat, Yamaha sendiri menempatkan busi standar pada motor harian seperti Mio dan NMAX, dan iridium pada motor performa tinggi seperti R15 dan MT-25.
Apa arti angka pada kode busi seperti CR8E atau CPR9EA-9?
OtoTerkini tidak memecah kode busi huruf demi huruf, karena pembuatnya tidak menerbitkan tabel semacam itu di halaman resmi yang bisa kami baca dan verifikasi. Yang diterbitkan NGK adalah katalog aplikasi dan Part Finder per nomor part. Bagian yang benar-benar dinyatakan resmi adalah angka heat range-nya: menurut NGK, heat range busi NGK umumnya berkisar 2 sampai 11, dan angka itu menunjukkan karakteristik termal businya. Arahnya sering mengejutkan, yaitu makin besar angkanya makin dingin businya. NGK mencontohkan mesin bertenaga rendah seperti pemotong rumput memakai heat range rendah (panas) seperti 4, sedangkan mesin berperforma tinggi memakai heat range tinggi (dingin) seperti 10. Cara paling aman bukan menafsirkan kodenya, melainkan mencocokkan kode yang diminta motor Anda. Yamaha misalnya merekomendasikan NMAX memakai busi tipe CR8E dari NGK, dan menyebut memakai tipe berbeda dari spesifikasi bisa menyebabkan pembakaran tidak sempurna.
Berapa celah busi (gap) yang benar?
Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua motor, dan pembuatnya sendiri mengarahkan Anda ke buku pedoman. NGK menyatakan celah elektroda menentukan besaran percikan, dan celah yang tidak tepat dapat memengaruhi performa mesin karena percikannya mungkin tidak cukup untuk memastikan pembakaran sempurna. Namun NGK juga menyebut celah itu dikontrol ketat saat produksi, dan dalam sebagian besar kasus sudah disetel sesuai kendaraan seperti direkomendasikan di katalognya, sehingga penyetelan hanya diperlukan pada sebagian kecil kasus. NGK menyarankan selalu memeriksa buku pedoman pemilik lebih dahulu. Satu perkecualian yang disebut NGK: mesin modifikasi dengan kompresi lebih tinggi atau induksi paksa umumnya menuntut celah yang lebih kecil, karena tekanan pembakaran yang lebih tinggi menaikkan kebutuhan tegangan di celah.
Warna elektroda busi seperti apa yang normal?
Astra Honda menyebut jika ujung elektroda berwarna abu-abu atau merah bata, itu artinya busi dalam kondisi baik dan normal, dan proses pembakaran di ruang bakar dalam keadaan optimal. Yamaha menyebut elektroda berwarna cokelat muda menandakan pembakaran yang sempurna, sedangkan elektroda berwarna hitam atau penuh kerak menandakan adanya masalah pada sistem bahan bakar atau pengapian. NGK menambahkan ujung satunya: busi yang kepanasan punya permukaan insulator putih di ujung pembakaran dengan endapan berbintik, dan elektroda yang meleleh menandakan kepanasan berlebihan. Yang penting dipahami, menurut NGK tampilan ujung pembakaran mencerminkan kesesuaian businya sekaligus kondisi mesinnya, dengan tiga kriteria dasar yaitu good, fouled, dan overheated. Jadi warna busi lebih sering merupakan laporan tentang mesin Anda daripada vonis terhadap businya.
Kenapa busi motor baru cepat hitam atau cepat mati lagi?
Kemungkinan besar masalahnya bukan di businya. NGK menyebut carbon fouling sebagai kegagalan terkait busi yang paling umum, tetapi menegaskan itu bukan kesalahan businya, dan menjelaskan penyebab paling umumnya adalah busi yang terlalu dingin dipakai sehingga suhu self-cleaning 450 derajat Celsius tidak pernah tercapai dan karbonnya tidak terbakar habis. Astra Honda menyebut daftar penyebab busi cepat rusak yang semuanya di luar businya: kompresi mesin bocor (tandanya tenaga ngempos dan busi cepat mati), setelan bahan bakar kurang pas sehingga bagian atas busi terlihat selalu basah, kerusakan sistem pengapian seperti koil lemah yang menghasilkan tegangan tidak stabil atau kabel busi aus yang membocorkan tegangan, dan pemasangan busi yang kurang kencang atau miring. Pada kasus busi basah, Astra Honda menyebut injektor yang tidak berfungsi baik membuat bahan bakar berlebihan masuk ke ruang bakar, dan menambahkan kebocoran oli mesin, ring kompresi aus, serta seal katup rusak sebagai penyebab lain. Jadi bacalah warnanya dulu sebelum membeli busi lagi.