
Minyak rem motor adalah salah satu cairan paling penting di motor Anda sekaligus yang paling sering diabaikan, karena ia tidak minta perhatian sampai suatu hari rem terasa dalam, ngempos, atau tidak menggigit di saat Anda paling membutuhkannya. Padahal benda ini yang meneruskan tenaga dari jari Anda di tuas rem ke kampas di kaliper, dan kalau ia gagal, tidak ada kampas atau cakram sebagus apa pun yang bisa menyelamatkan. Dua pertanyaan yang paling sering muncul adalah apa beda DOT 3 dan DOT 4 yang tertulis di tutup tabung rem, dan berapa lama sekali cairan ini sebenarnya harus diganti. Artikel ini menjawab keduanya dengan angka dari sumber resmi, menjelaskan kenapa minyak rem wajib diganti berkala meski levelnya kelihatan masih penuh, dan menandai dengan jujur di mana angka yang beredar di internet tidak seragam.
Minyak rem itu apa dan kenapa ia soal keselamatan
Rem cakram modern bekerja secara hidrolik, dan minyak rem adalah zat perantaranya. Astra Honda menjelaskan bahwa minyak rem berfungsi mendorong piston di dalam kaliper sehingga kampas rem menekan cakram untuk memperlambat dan menghentikan putaran roda sampai sepeda motor berhenti sempurna, sekaligus meredam panas yang timbul akibat gesekan cakram dan kampas saat rem bekerja. Yamaha menyebut fungsi utamanya sebagai media transfer tekanan dari tuas rem ke kaliper atau tromol, sehingga saat Anda menekan tuas, tekanan hidrolik yang dihasilkan minyak rem langsung diteruskan ke komponen pengereman. Tanpa cairan ini, sistem hidrolik tidak berfungsi, dan menurut Yamaha Anda bisa kehilangan kontrol saat pengereman.
Ada satu sifat fisika yang membuat minyak rem berbeda dari oli lain: ia harus tidak bisa ditekan. Cairan yang baik meneruskan tenaga secara utuh karena praktis tidak mampat. Masalah muncul begitu ada gelembung gas atau uap air di dalam saluran, karena gas bisa ditekan. Ketika sebagian tenaga tuas terpakai untuk memampatkan gelembung dan bukan mendorong piston, rem terasa dalam, lembek, atau kosong. Inilah akar dari hampir semua keluhan rem hidrolik yang berhubungan dengan minyak rem, dan sebagian besar bisa dicegah hanya dengan memilih spesifikasi yang benar lalu menggantinya tepat waktu.
Karena taruhannya adalah jarak berhenti motor Anda, minyak rem termasuk komponen yang paling tidak layak dihemat dengan menunda. Ia bukan bagian mesin, melainkan bagian dari sistem keselamatan, sederajat dengan ban dan kampas rem. Kalau Anda sedang menyusun anggaran perawatan menyeluruh, biaya minyak rem yang kecil ini sebaiknya ikut masuk hitungan bersama oli, ban, dan servis berkala lewat kalkulator biaya kepemilikan kendaraan, supaya bebannya terlihat utuh dalam setahun.
Arti kode DOT dan titik didih: kering versus basah
Kode yang tercetak di kaleng minyak rem, seperti DOT 3 atau DOT 4, sering disalahartikan sebagai merek atau kekentalan. Bukan. Astra Honda menyatakan DOT merupakan kepanjangan dari Department of Transportation, dan digunakan untuk standardisasi minyak rem, sementara angka 3, 4, dan 5 menunjukkan tingkat ketahanan minyak rem terhadap panas: semakin tinggi angkanya, semakin tinggi titik didihnya, yang berarti semakin tahan terhadap panas. Valvoline menegaskan hal yang sama dari sisi standar teknisnya, yaitu DOT adalah singkatan dari US Department of Transportation dan menunjukkan grade minyak rem yang ditetapkan oleh Federal Motor Vehicle Safety Standards (FMVSS), yakni DOT 3, DOT 4, DOT 5, dan DOT 5.1.
Kenapa titik didih sepenting itu? Karena mengerem menghasilkan panas dalam jumlah besar. Menurut Gridoto yang mengutip mekanik, suhu di area rem kendaraan harian bisa mencapai 427 derajat Celsius tergantung kondisi jalan dan beban. Panas itu menyebar ke minyak rem. Astra Honda menerangkan bahwa minyak rem dengan titik didih rendah akan mudah mendidih dan berpotensi menimbulkan buih, dan buih itulah yang mengakibatkan adanya angin palsu sehingga rem terasa tidak ada tekanan, kosong, atau blong. Jadi titik didih bukan angka pamer, melainkan margin keamanan Anda saat rem dipaksa bekerja keras di turunan panjang.
Di sini ada satu hal yang jarang dijelaskan tetapi menentukan segalanya: setiap minyak rem glikol punya dua titik didih, bukan satu. Valvoline dan Summit Racing sama-sama menjelaskan konsep ini. Titik didih kering (dry boiling point) adalah suhu saat cairan masih baru dan belum menyerap air. Titik didih basah (wet boiling point) adalah suhu setelah cairan berada di dalam sistem beberapa waktu dan sudah menyerap air dari udara. Summit Racing mendefinisikan kondisi basah sebagai kandungan air 3,7 persen dari volume, dan Gridoto membulatkannya ke sekitar 3 persen. Titik didih basah selalu jauh lebih rendah daripada yang kering, dan angka inilah yang sebenarnya paling relevan untuk cairan yang sudah setahun dua tahun di motor Anda.
| Jenis | Bahan dasar | Titik didih kering (baru) | Titik didih basah (menyerap air) |
|---|---|---|---|
| DOT 3 | Glikol (glycol ether) | Sekitar 205 derajat Celsius | Sekitar 140 derajat Celsius |
| DOT 4 | Glikol atau borate ester | Sekitar 230 derajat Celsius | Sekitar 155 derajat Celsius |
| DOT 5.1 | Glikol atau borate ester | Sekitar 260 derajat Celsius | Sekitar 180 derajat Celsius |
| DOT 5 | Silikon | Sekitar 260 derajat Celsius | Sekitar 180 derajat Celsius |
Angka titik didih kering di tabel berasal dari Astra Honda untuk DOT 3, DOT 4, dan DOT 5. Titik didih basah untuk DOT 3, DOT 4, dan DOT 5 mengikuti Gridoto yang menyebut 140, 155, dan 180 derajat Celsius, dan senada dengan tabel Summit Racing yang menyebut 284, 311, dan 356 derajat Fahrenheit, setara dengan 140, 155, dan 180 derajat Celsius. Untuk DOT 5.1, angka kering dan basah mengikuti tabel Summit Racing sebesar 500 dan 356 derajat Fahrenheit atau 260 dan 180 derajat Celsius. Perlu dicatat, ini adalah ambang minimum standar. Valvoline mengingatkan bahwa produsen berbeda bisa menjual produk dengan titik didih berbeda, dan Summit Racing menyebut sebagian merek menjual cairan dengan titik didih jauh lebih tinggi yang ditujukan untuk kendaraan balap, bukan motor harian. Cara membaca kode ini secara umum, sama seperti membaca kode oli, dibahas paralel di panduan arti kode SAE dan JASO pada pelumas.
Beda DOT 3, DOT 4, dan DOT 5.1 secara praktis
Sekarang bagian yang paling banyak dicari: apa bedanya buat motor Anda sehari-hari. Intinya satu, yaitu ketahanan panas, dan DOT 4 memang selangkah di atas DOT 3. Yamaha menyebut DOT 3 sebagai jenis paling dasar yang umum dipakai pada motor harian dengan titik didih cukup untuk penggunaan normal di jalan perkotaan, tetapi kurang cocok untuk kondisi ekstrem seperti pengereman berat pada perjalanan jauh atau medan pegunungan. DOT 4, menurut Yamaha, memiliki titik didih lebih tinggi sehingga lebih tahan panas dan direkomendasikan untuk motor yang sering dipakai perjalanan jauh atau di jalanan menurun, dan Yamaha menyatakan sebagian besar motor Yamaha modern menggunakan jenis ini. Selisih titik didih kering 205 lawan 230 derajat Celsius dari Astra Honda menerjemahkan perbedaan itu menjadi angka.
DOT 5.1 adalah lapis di atasnya lagi, tetapi masih sekeluarga dengan DOT 4. Yamaha menyebut DOT 5.1 sebagai pengembangan dari DOT 4 dengan titik didih lebih tinggi dan kemampuan menahan kelembapan lebih baik, cocok untuk motor yang sering dipakai dalam kondisi ekstrem. Valvoline menjelaskan bahwa DOT 5.1 memakai glycol ether dan borate ester dengan kemampuan mendekati DOT 5 berbahan silikon, tetapi tetap kompatibel dengan sistem dan cairan DOT 3 serta DOT 4. Jadi urutan ketahanan panasnya, dari yang paling rendah, adalah DOT 3, lalu DOT 4, lalu DOT 5.1, dan ketiganya berbahan glikol.
Perhatikan bahwa DOT 5 sengaja tidak masuk urutan itu meski angkanya paling besar. DOT 5 berbahan silikon, bukan glikol, dan itu bukan sekadar naik kelas melainkan pindah jenis. Perbedaan bahan dasar inilah yang mengubah pertanyaan sederhana "boleh naik grade?" menjadi hal yang harus Anda pahami sebelum menuang apa pun ke tabung rem, dan itu bagian berikutnya.
Boleh dicampur atau di-upgrade? Aturan glikol versus silikon
Pertanyaan ini penting karena salah menuang cairan bisa merusak sistem rem, bukan sekadar kurang optimal. Kabar baiknya, di dalam keluarga glikol aturannya cukup jelas. Valvoline menyatakan minyak rem boleh dicampur hanya jika cairan yang Anda tambahkan berasal dari grade lebih tinggi. Contohnya, sistem yang menetapkan DOT 3 boleh diisi DOT 4 atau DOT 5.1, dan sistem DOT 4 boleh ditambah DOT 5.1 tanpa menguras dulu. Sebaliknya, menurut Valvoline, jangan pernah menambahkan DOT 3 ke sistem yang menetapkan DOT 4, karena DOT 3 tidak memenuhi kebutuhan suhu akibat titik didih kering dan basahnya yang lebih rendah. Naik grade aman selama masih glikol, turun grade tidak.
Sekarang garis merah yang tidak boleh dilanggar: DOT 5. Yamaha menegaskan DOT 5 berbahan silikon tidak kompatibel dengan sistem pengereman yang menggunakan DOT 3 atau DOT 4. Summit Racing menjelaskan alasannya, yaitu cairan glikol bersifat higroskopis sedangkan silikon bersifat hidrofobik atau menolak air, dan karena cara keduanya memperlakukan air berbeda, cairan glikol dan silikon tidak kompatibel satu sama lain sehingga jangan pernah mencampur keduanya. Valvoline menambahkan bahwa DOT 5 tidak boleh dicampur dengan jenis lain mana pun karena komposisi silikonnya, dan bahkan tidak cocok untuk sistem rem ABS. Summit Racing juga mencatat silikon lebih mudah dimampatkan daripada glikol, yang justru bisa membuat pedal atau tuas rem terasa lembek.
Dari semua aturan di atas, satu prinsip berdiri paling penting, dan Yamaha menyebutnya lebih dulu daripada urusan grade: ikuti rekomendasi pabrikan. Yamaha meminta Anda memeriksa buku manual motor untuk mengetahui jenis oli rem yang direkomendasikan, dan mencontohkan Aerox atau NMAX yang disarankan memakai DOT 4. Pada banyak motor, kode DOT yang diminta juga tercetak di tutup tabung minyak rem, jadi Anda tidak perlu menebak. Memakai spesifikasi yang sesuai jauh lebih menentukan daripada mengejar angka tertinggi yang tersedia di rak toko.
Kenapa minyak rem wajib diganti walau levelnya kelihatan cukup
Inilah pertanyaan yang paling sering membingungkan pemilik motor. Kalau cairannya tidak terbakar, tidak menguap habis, dan levelnya masih di antara garis MIN dan MAX, kenapa harus diganti sama sekali? Jawabannya ada pada satu kata yang muncul di hampir semua sumber resmi: higroskopis.
Astra Honda menyatakan minyak rem bersifat higroskopis, artinya dapat menyerap air dari udara, dan air dalam sistem rem dapat mendidih saat sistem rem panas sehingga menghasilkan uap yang membuat pedal atau tuas rem terasa lembut atau bahkan tidak berfungsi. Yamaha menerangkan konsekuensinya secara langsung, yaitu oli rem dapat menyerap air dari udara yang dapat menurunkan titik didihnya, itulah kenapa oli rem harus disimpan dalam wadah tertutup rapat. Honda Cengkareng meringkasnya dengan gamblang, yaitu seiring waktu kandungan air dalam minyak rem meningkat, titik didihnya menurun, dan hal ini berisiko menyebabkan rem blong saat dipakai dalam kondisi panas seperti turun gunung atau berkendara jarak jauh.
Perhatikan implikasinya. Minyak rem Anda perlahan berpindah dari titik didih kering ke titik didih basah bukan karena rusak, melainkan karena bekerja normal sambil menyerap kelembapan lewat seal, selang, dan setiap kali tutup tabung dibuka. Level cairan bisa tetap penuh sementara kemampuannya menahan panas sudah anjlok diam-diam. Itu sebabnya mengganti minyak rem tidak boleh menunggu levelnya turun atau remnya bermasalah dulu. Level yang penuh sama sekali bukan tanda cairannya masih sehat. Summit Racing bahkan mengingatkan bahwa kandungan air yang meningkat tidak hanya menurunkan titik didih, tetapi juga mulai mengorosi komponen logam di dalam sistem rem, jadi menunda penggantian menyerang dua sisi sekaligus.
Interval resmi ganti minyak rem dan tanda ia minta diganti
Karena cairannya menua berdasarkan waktu dan penyerapan air, bukan cuma jarak tempuh, interval penggantiannya lebih banyak dipatok dalam tahun. Astra Honda menyatakan gantilah minyak rem sesuai panduan atau setiap 24.000 km atau 2 tahun, dan gunakan Brake Fluid asli Honda. Yamaha menyebut idealnya oli rem diganti setiap 2 tahun sekali untuk menjaga kualitas pengereman dan mencegah kerusakan pada sistem. Angka di jaringan dealer bisa sedikit berbeda; Honda Cengkareng menyebut penggantian setiap 2 tahun atau 20.000 km, tergantung mana yang tercapai lebih dulu. Selisih kecil pada angka kilometer ini justru menegaskan pesan yang sama dari Valvoline, yaitu interval berbeda antar pabrikan sehingga acuan yang sah adalah buku pedoman pemilik motor Anda, bukan angka yang paling ramai di internet.
| Sumber | Interval ganti minyak rem |
|---|---|
| Astra Honda | Sesuai panduan, atau setiap 24.000 km atau 2 tahun |
| Yamaha | Idealnya setiap 2 tahun sekali |
| Honda Cengkareng (dealer) | Setiap 2 tahun atau 20.000 km, mana lebih dulu |
| Valvoline | Bervariasi antar pabrikan, ikuti buku pedoman pemilik |
Selain kalender, ada tanda-tanda yang bisa Anda periksa sendiri tanpa alat. Pertama, warna. Honda Cengkareng menyebut minyak rem baru berwarna bening atau kuning muda, dan bila warnanya sudah gelap atau kehitaman, berarti sudah terkontaminasi dan perlu diganti. Kedua, rasa tuas. Bila tuas rem terasa lembek, dalam, atau tidak responsif, menurut Honda Cengkareng bisa jadi ada udara atau kandungan air berlebih dalam sistem, dan gejala spongy semacam ini juga dijelaskan Summit Racing sebagai efek gas atau uap yang mudah dimampatkan di dalam saluran. Ketiga, kinerja. Bila motor terasa lebih sulit berhenti atau rem kurang pakem, itu sinyal untuk segera memeriksa kondisi minyak rem. Keempat, level. Yamaha dan Honda Cengkareng sama-sama meminta Anda memeriksa level cairan di reservoir agar tetap berada di antara tanda MIN dan MAX, dan menjaga tutup reservoir tertutup rapat untuk mencegah masuknya debu dan air. Karena penilaian warna dan rasa tuas bersifat kualitatif, penggantian berbasis kalender tetap jadi jaring pengaman utama.
Penggantian minyak rem paling pas ditempelkan pada servis motor rutin dan jadwalnya yang sudah Anda jalani, sekalian bersama pengecekan cairan lain seperti air radiator atau coolant motor yang sama-sama sering terlupakan. Kalau Anda sedang menimbang motor bekas, kondisi dan usia minyak rem wajib ikut dicek, seperti disinggung di panduan beli motor bekas, karena rem yang terasa dalam saat test ride sering berujung ke cairan yang telat diganti.
Bahaya rem blong, peringatan cat, dan mitos angka DOT tertinggi
Kenapa semua ini penting sampai layak satu artikel? Karena kegagalannya berbentuk rem blong, dan itu bukan istilah dramatis. Astra Honda menjelaskan rangkaian sebab-akibatnya dengan jelas: minyak rem yang menyerap air, saat sistem rem panas, membuat airnya mendidih dan menghasilkan uap, atau minyak rem bertitik didih rendah mendidih dan menimbulkan buih, dan uap serta buih itu menciptakan angin palsu sehingga rem terasa kosong atau blong. Dalam bahasa berkendara, Anda menarik tuas dan tidak ada yang terjadi, tepat di momen Anda paling membutuhkan rem, misalnya di ujung turunan panjang. Memilih spesifikasi yang benar lalu menggantinya tiap 2 tahun adalah asuransi yang sangat murah terhadap skenario itu.
Ada satu peringatan praktis yang sering dilupakan saat mengganti sendiri: minyak rem merusak cat. Valvoline menyatakan semua minyak rem berbahan glikol harus ditangani hati-hati karena dapat merusak cat kendaraan, dan hanya DOT 5 berbahan silikon yang tidak merusak lapisan cat. Karena hampir semua motor harian memakai cairan glikol (DOT 3, DOT 4, atau DOT 5.1), tetesan di tangki atau bodi harus segera dilap dan disiram air, jangan dibiarkan. Ini alasan lain kenapa banyak orang menyerahkan pekerjaan ini ke bengkel, dan soal memilih bengkel yang mau menunjukkan pekerjaannya dibahas di cara memilih bengkel motor.
Terakhir, mitos yang perlu diluruskan: angka DOT lebih tinggi tidak otomatis lebih bagus untuk motor Anda. Godaannya wajar, karena titik didih yang lebih tinggi terdengar selalu lebih aman. Tetapi dua hal membatalkan logika itu. Pertama, DOT 5 yang angkanya paling besar justru berbahan silikon dan menurut Yamaha, Valvoline, serta Summit Racing tidak kompatibel dengan sistem DOT 3 atau DOT 4, tidak boleh dicampur, tidak cocok untuk ABS, dan sifat silikonnya yang lebih mudah dimampatkan bisa membuat tuas rem malah terasa lembek. Menuang DOT 5 ke motor yang dirancang untuk glikol bukan upgrade, melainkan kesalahan. Kedua, dalam keluarga glikol, naik ke DOT 4 atau DOT 5.1 memang boleh sesuai buku manual, tetapi manfaatnya nyata hanya kalau Anda benar-benar sering menghadapi pengereman berat dan panas ekstrem seperti di pegunungan. Untuk pemakaian kota normal, DOT bawaan yang diganti tepat waktu jauh lebih menentukan daripada DOT tertinggi yang dibiarkan menyerap air bertahun-tahun. Sesuaikan dengan spesifikasi di tutup tabung dan buku pedoman, ganti tiap 2 tahun, dan Anda sudah mengalahkan mayoritas pemilik motor yang tidak pernah menyentuh cairan ini sama sekali.
Menutup semuanya, minyak rem motor adalah cairan hidrolik kecil dengan tanggung jawab besar: ia yang menerjemahkan tarikan jari Anda menjadi motor yang berhenti. Kode DOT di kemasannya menandakan ketahanan panas lewat titik didih, DOT 4 lebih tinggi daripada DOT 3, dan DOT 3, DOT 4, serta DOT 5.1 sama-sama glikol yang boleh di-upgrade sesuai manual sementara DOT 5 berbahan silikon dan tidak kompatibel. Karena higroskopis, cairan ini menyerap air dan kehilangan titik didihnya diam-diam, jadi ganti berkala setiap 24.000 km atau 2 tahun menurut Astra Honda dan idealnya 2 tahun menurut Yamaha, bukan menunggu rusak. Cocokkan spesifikasi dengan buku pedoman dan tutup tabung, bukan mengejar angka terbesar. Untuk sistem lain yang juga menentukan cara motor Anda berjalan dan berhenti, telusuri cara kerja dan perawatan CVT motor matic, kopling manual motor bebek dan sport, atau jelajahi artikel perawatan lainnya di OtoTerkini.
Sumber
- PT Astra Honda Motor, Minyak Rem Jangan Diabaikan! Kenali Jenisnya Biar Tidak Salah Pilih (DOT kepanjangan Department of Transportation untuk standardisasi minyak rem; DOT 3 berbahan glikol titik didih 205 derajat Celsius, DOT 4 glikol atau borate esther 230 derajat Celsius, DOT 5 silikon 260 derajat Celsius; angka menunjukkan ketahanan terhadap panas, semakin tinggi semakin tinggi titik didihnya; minyak rem bersifat higroskopis menyerap air dari udara, air dapat mendidih saat rem panas menghasilkan uap sehingga tuas rem terasa lembut atau tidak berfungsi; titik didih rendah mudah mendidih menimbulkan buih dan angin palsu yang membuat rem kosong atau blong; minyak rem mendorong piston di kaliper agar kampas menekan cakram; ganti minyak rem sesuai panduan atau setiap 24.000 km atau 2 tahun dan gunakan Brake Fluid asli Honda)
- PT Yamaha Indonesia Motor Mfg., Jenis dan Fungsi Oli Rem Motor yang Perlu Diketahui (oli rem sebagai media transfer tekanan hidrolik dari tuas rem ke kaliper; DOT 3 paling dasar untuk motor harian, kurang cocok kondisi ekstrem; DOT 4 titik didih lebih tinggi, direkomendasikan untuk perjalanan jauh atau jalan menurun, sebagian besar motor Yamaha modern memakainya; DOT 5 berbahan silikon, tidak kompatibel dengan sistem DOT 3 atau DOT 4; DOT 5.1 pengembangan DOT 4 dengan titik didih lebih tinggi; ikuti rekomendasi pabrikan di buku manual, contoh Aerox atau NMAX disarankan DOT 4; oli rem menyerap air dari udara yang menurunkan titik didih sehingga harus disimpan tertutup rapat; idealnya diganti setiap 2 tahun sekali; periksa level di reservoir)
- Valvoline Global, What's the Difference Between DOT 3, DOT 4 and DOT 5 Brake Fluid? (DOT singkatan US Department of Transportation, grade ditetapkan FMVSS; DOT 3 glycol ether, DOT 4 glycol ether plus borate ester lebih tinggi, DOT 5.1 glycol ether plus borate ester dan kompatibel dengan sistem DOT 3 dan DOT 4; boleh mencampur hanya dengan grade lebih tinggi, sistem DOT 3 boleh DOT 4 atau DOT 5.1, jangan pernah menambah DOT 3 ke sistem DOT 4; DOT 5 silikon tidak boleh dicampur jenis lain dan tidak cocok untuk ABS; semua cairan glikol dapat merusak cat kendaraan, DOT 5 silikon tidak merusak cat; definisi titik didih kering dan basah, DOT 5 dry 260 derajat Celsius dan wet 180 derajat Celsius; produsen berbeda bisa punya titik didih berbeda; interval ganti berbeda antar pabrikan, ikuti buku pedoman pemilik)
- Summit Racing, What is the difference between brake fluids? DOT 3 vs DOT 4 vs DOT 5 vs DOT 5.1 (DOT 3, DOT 4, DOT 5.1 berbahan glycol ether, DOT 5 berbahan silikon; cairan glikol higroskopis menyerap kelembapan dari atmosfer sehingga titik didih turun dan mulai mengorosi komponen logam; cairan silikon hidrofobik tidak menyerap air dan lebih mudah dimampatkan sehingga pedal terasa spongy; cairan glikol dan silikon TIDAK kompatibel, jangan pernah mencampur keduanya; titik didih basah didefinisikan pada kandungan air 3,7 persen volume; tabel dalam Fahrenheit: DOT 3 kering 401 basah 284, DOT 4 kering 446 basah 311, DOT 5 kering 500 basah 356, DOT 5.1 kering 500 basah 356; konversi ke Celsius dihitung di badan artikel)
- Honda Cengkareng, Kapan Harus Ganti Minyak Rem Motor Honda? (minyak rem higroskopis, kandungan air meningkat seiring waktu menurunkan titik didih dan berisiko rem blong saat panas seperti turun gunung; tanda perlu ganti: warna menghitam dari bening atau kuning muda berarti terkontaminasi, tuas rem terasa lunak atau spongy karena udara atau air berlebih, kinerja rem menurun; Honda merekomendasikan penggantian setiap 2 tahun atau 20.000 km tergantung mana lebih dulu; periksa level di reservoir antara tanda MIN dan MAX, pastikan tutup reservoir tertutup rapat; contoh harga Honda Brake Fluid HBF50ML 50 ml terpasang sekitar Rp 10.000 di toko dealer)
- GridOto, Pemilik Mobil Wajib Tahu Artinya Kode DOT 3-4 dan 5 Pada Minyak Rem (DOT kependekan Department of Transportation, lembaga di Amerika Serikat yang membuat standar cairan rem; titik didih kering DOT 3 minimal 205 derajat Celsius, DOT 4 230 derajat Celsius, DOT 5 lebih tinggi karena silikon; titik didih basah dengan kandungan air sekitar 3 persen: DOT 3 menjadi 140 derajat Celsius, DOT 4 155 derajat Celsius, DOT 5 180 derajat Celsius; DOT 3 dan DOT 4 berbahan glycol yang higroskopis; suhu rem kendaraan harian bisa mencapai 427 derajat Celsius tergantung kondisi jalan dan beban)