
Kalau Anda sedang menimbang mobil Alphard, angka pertama yang muncul di kepala biasanya banderolnya. Menurut daftar harga resmi Toyota Astra per 01 Juli 2026, Toyota menjual tiga garis Alphard: New Alphard XE mulai Rp1.288.000.000, New Alphard XE Hybrid EV mulai Rp1.388.000.000, dan New Alphard Hybrid EV yang berisi dua tipe sekaligus, yaitu 2.5 G mulai Rp1.652.100.000 dan 2.5 Hybrid EV mulai Rp1.737.400.000. Semuanya OTR Jakarta. Masalahnya, banderol itu cuma setoran pertama. Pada mobil seharga ini, ongkos yang berjalan setiap tahun berskala puluhan sampai ratusan juta rupiah, dan justru di situlah calon pembeli paling sering salah hitung. Artikel ini memetakan tiga hal: apa saja tipe yang benar-benar dijual Toyota beserta harganya, bagaimana pajak progresif bekerja pada kendaraan bernilai tinggi, dan pos biaya apa saja yang membuat total kepemilikan Alphard jauh melampaui angka di brosur.
Tiga garis Alphard yang dijual Toyota dan banderolnya
Banyak orang mengira Alphard adalah satu mobil dengan beberapa trim. Kenyataannya Toyota memasarkannya sebagai beberapa produk terpisah dengan halaman dan daftar harga sendiri. Tabel berikut menyalin apa adanya dari daftar harga resmi Toyota Astra dan halaman produk masing-masing.
| Produk | Tipe | Mesin | Harga mulai |
|---|---|---|---|
| New Alphard XE | 2.5 XE CVT | Bensin 2AR-FE | Rp1.288.000.000 |
| New Alphard XE Hybrid EV | 2.5 XE Hybrid EV CVT | Hybrid A25A-FXS | Rp1.388.000.000 |
| New Alphard Hybrid EV | 2.5 G CVT (Spot Order) | Bensin 2AR-FE | Rp1.652.100.000 |
| New Alphard Hybrid EV | 2.5 Hybrid EV CVT | Hybrid A25A-FXS | Rp1.737.400.000 |
| New Vellfire Hybrid EV | 2.5 Hybrid EV (VIP) | Hybrid A25A-FXS | Rp1.872.800.000 |
Ada dua hal yang layak dicermati dari tabel itu. Pertama, nama produk "New Alphard Hybrid EV" ternyata memuat tipe bermesin bensin murni, yaitu 2.5 G, yang sama sekali bukan hybrid. Jadi jangan berasumsi semua unit di bawah payung nama itu sudah elektrifikasi. Kedua, selisih antar-produk sangat lebar. Dari New Alphard XE ke tipe 2.5 G, jaraknya Rp364.100.000, padahal keduanya memakai mesin bensin 2AR-FE yang sama dan dimensi bodi yang identik. Yang Anda bayar di selisih itu adalah kelengkapan dan positioning, bukan mesin yang berbeda.
Langkah ke hybrid pun tidak seragam harganya. Dari New Alphard XE ke New Alphard XE Hybrid EV, tambahannya persis Rp100.000.000. Sementara di garis atas, dari tipe 2.5 G ke 2.5 Hybrid EV, tambahannya Rp85.300.000. Artinya, kalau memang menginginkan powertrain hybrid, ongkos naik kelasnya justru lebih murah di produk yang lebih mahal. Perlu dicatat pula, Toyota menandai unit Alphard sebagai Spot Order dengan indent minimal 3 bulan yang dapat berubah sewaktu-waktu tergantung keadaan pabrik. Kalau kendaraan ini dibeli untuk kebutuhan operasional dengan tenggat, jeda inden itu harus masuk perencanaan sejak awal. Semua harga di atas juga OTR untuk Jakarta dan sekitarnya, sehingga wilayah lain akan berbeda karena komponen pajak dan administrasinya tidak sama.
Beda tipe: dimensi sama, jantung berbeda
Di sinilah data resmi Toyota memberi kejutan kecil. Seluruh Alphard, termasuk Vellfire, berbagi dimensi yang persis sama. Yang membedakan hanya mesin dan kelengkapannya.
| Spesifikasi | Tipe bensin (XE dan 2.5 G) | Tipe Hybrid EV |
|---|---|---|
| Panjang keseluruhan | 5.010 mm | 5.010 mm |
| Lebar keseluruhan | 1.850 mm | 1.850 mm |
| Tinggi keseluruhan | 1.945 mm | 1.945 mm |
| Jarak sumbu roda | 3.000 mm | 3.000 mm |
| Kode mesin | 2AR-FE (2.5 GAS) | A25A-FXS (2.5 HEV) |
| Tenaga mesin | 134 kW / 182 PS | 140 kW / 190 PS |
| Torsi mesin | 235 Nm / 23,9 kgm | 239 Nm / 24,4 kgm |
| Tenaga motor listrik | Tidak ada | 134 kW / 182 PS |
| Torsi motor listrik | Tidak ada | 270 Nm / 27,5 kgm |
| Total tenaga sistem | Tidak ada | 184 kW / 250 PS |
| Transmisi | CVT | CVT |
Angka total tenaga sistem 184 kW atau 250 PS pada tipe hybrid bukan sekadar penjumlahan di atas kertas. Ia menjelaskan mengapa versi hybrid terasa jauh lebih ringan menarik bodi setinggi 1.945 mm, terutama saat kabin penuh penumpang. Torsi motor listriknya 270 Nm, lebih besar daripada torsi mesin bensinnya sendiri yang 239 Nm, dan torsi listrik tersedia sejak putaran rendah. Untuk mobil yang tugas utamanya mengantar penumpang dengan halus dari lampu merah ke lampu merah, karakter itu justru lebih relevan daripada angka tenaga puncak. Kalau Anda ingin memahami cara kerja sistem ini sebelum memutuskan, baca dulu penjelasan mobil hybrid dan cara kerjanya.
Toyota juga mencantumkan garansi baterai 8 tahun atau 160.000 km, bergantung pada kondisi mana yang tercapai lebih dahulu. Ini poin penting yang sering dilewatkan dalam diskusi soal hybrid mahal, karena kekhawatiran terbesar calon pembeli biasanya justru ada di komponen baterai. Untuk kaki-kaki, tipe Hybrid EV memakai ban 225/55 R19 alloy dengan suspensi depan strut dan belakang double wishbone. Ukuran pelek 19 inci itu punya konsekuensi biaya yang nyata saat ganti ban, sesuatu yang akan kita bahas di bagian ongkos operasional.
PKB tahunan dan jebakan pajak progresif
Bagian ini yang paling banyak salah kaprah, termasuk di banyak artikel yang beredar. Mari luruskan dari dasar hukumnya. Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah Pasal 9 ayat (1), dasar pengenaan PKB adalah hasil perkalian dua unsur pokok, yaitu nilai jual kendaraan bermotor (NJKB) dan bobot yang mencerminkan tingkat kerusakan jalan serta pencemaran lingkungan. Lalu Pasal 11 ayat (1) menegaskan besaran pokok PKB terutang dihitung dengan mengalikan dasar pengenaan itu dengan tarif PKB.
Perhatikan apa yang tidak ada di rumus tersebut: harga OTR. NJKB bukan harga OTR. Harga OTR sudah memuat BBNKB, PPN, PKB tahun pertama, dan biaya administrasi, sehingga selalu lebih tinggi daripada NJKB. Maka rumus pintas populer "PKB = 2% x harga OTR" secara aturan keliru dan akan menghasilkan angka yang terlalu besar. NJKB ditetapkan lewat peraturan menteri dalam negeri dan peraturan gubernur untuk tiap tipe kendaraan. Karena itu, kami tidak mencantumkan angka rupiah PKB Alphard di artikel ini. Kami tidak memiliki NJKB resmi untuk tipe ini dari sumber yang bisa kami tunjukkan, dan mengarang angkanya akan lebih merugikan Anda daripada tidak memberi angka sama sekali. Yang benar: baca NJKB di lembar STNK Anda atau tanyakan ke Bapenda provinsi tempat kendaraan terdaftar, lalu masukkan ke rumus di atas. Anda bisa mulai dari kalkulator cek pajak kendaraan dan memahami isian dokumennya lewat panduan membaca data di lembar STNK.
Sekarang soal progresifnya, dan di sinilah Alphard benar-benar masuk wilayah rawan. UU Nomor 1 Tahun 2022 Pasal 10 ayat (1) menetapkan tarif PKB untuk kepemilikan pertama paling tinggi 1,2%, sedangkan kepemilikan kedua dan seterusnya dapat ditetapkan secara progresif paling tinggi 6%. Namun ada ketentuan khusus di Pasal 10 ayat (2) untuk daerah setingkat provinsi yang tidak terbagi dalam kabupaten/kota otonom, yaitu DKI Jakarta: kepemilikan pertama paling tinggi 2%, dan kepemilikan kedua dan seterusnya progresif paling tinggi 10%. Jakarta memang punya plafon tarif yang lebih tinggi daripada provinsi lain.
Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Pasal 7 ayat (1) kemudian memakai tangga berikut untuk kepemilikan oleh orang pribadi.
| Urutan kepemilikan | Tarif PKB DKI Jakarta | Relatif terhadap kendaraan pertama |
|---|---|---|
| Pertama | 2% | 1x |
| Kedua | 3% | 1,5x |
| Ketiga | 4% | 2x |
| Keempat | 5% | 2,5x |
| Kelima dan seterusnya | 6% | 3x |
Kolom terakhir itulah intinya, dan ia tidak memerlukan NJKB untuk dipahami. Pada mobil yang sama persis, PKB kendaraan kelima adalah tiga kali lipat PKB kendaraan pertama. Pada mobil murah, selisih itu terasa sebagai gangguan kecil. Pada kendaraan sekelas Alphard yang NJKB-nya tinggi, pengali yang sama berubah menjadi tambahan berskala puluhan juta rupiah setiap tahun, selama Anda memilikinya. Inilah alasan pajak progresif jauh lebih menyakitkan di segmen ini daripada di segmen LMPV.
Dua detail teknis yang menentukan apakah Anda kena atau tidak. Pertama, menurut penjelasan Pasal 7 ayat (1) Perda tersebut, progresif dibedakan sesuai jenis kendaraan berdasarkan kategori jumlah roda. Jadi satu motor roda dua dan satu mobil roda empat masing-masing dihitung sebagai kepemilikan pertama, dan tidak saling menumpuk. Kedua, Pasal 7 ayat (4) menyatakan kepemilikan didasarkan atas nama, nomor induk kependudukan, dan/atau alamat yang sama. Penjelasannya mempertegas: nama yang sama didasarkan pada NIK yang sama, dan alamat yang sama didasarkan pada nomor kartu keluarga yang sama. Konsekuensinya nyata, mobil milik anggota keluarga lain dalam satu kartu keluarga dapat ikut diperhitungkan. Rincian cara menghitungnya ada di panduan cara hitung pajak progresif.
Opsen, asuransi, servis, dan BBM: ongkos yang jalan terus
Selain PKB, ada beberapa pos yang menempel pada kepemilikan Alphard setiap tahun. Berikut yang perlu Anda anggarkan.
Opsen PKB, dan pengecualian Jakarta. UU Nomor 1 Tahun 2022 Pasal 83 ayat (1) huruf a menetapkan tarif Opsen PKB sebesar 66%, dihitung dari besaran pajak terutang, dan dipungut oleh kabupaten/kota. Ini terdengar mengerikan, tetapi perlu dibaca bersama tarif pokoknya yang lebih rendah di provinsi yang terbagi dalam kabupaten/kota, yaitu paling tinggi 1,2% untuk kepemilikan pertama. Menariknya, Perda DKI Jakarta Nomor 1 Tahun 2024 Pasal 2 ayat (2) secara tegas memasukkan opsen PKB dan opsen BBNKB sebagai jenis pajak yang tidak dipungut oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Jadi di Jakarta tidak ada opsen, tetapi tarif pokoknya memang lebih tinggi (2% untuk kepemilikan pertama). Kalau Anda mendaftarkan Alphard di luar Jakarta, struktur biayanya berbeda dan opsen ikut bermain. Silakan cek ke Bapenda provinsi tujuan sebelum memutuskan tempat registrasi.
Asuransi all risk. Premi all risk dihitung sebagai persentase dari nilai pertanggungan, bukan angka tetap. Kami tidak mengutip tarif spesifik karena belum memverifikasinya ke sumber resmi. Namun aritmetikanya bisa Anda lakukan sendiri dan hasilnya cukup menjelaskan: pada tipe 2.5 G seharga Rp1.652.100.000, setiap 1% dari nilai pertanggungan setara Rp16.521.000 per tahun. Pada tipe 2.5 Hybrid EV seharga Rp1.737.400.000, setiap 1% setara Rp17.374.000 per tahun. Berapa pun tarif yang akhirnya diberikan penanggung Anda, kalikan saja ke angka itu. Pada mobil miliaran, premi all risk bukan pos yang bisa dibulatkan menjadi "biaya kecil", dan menurunkan pertanggungan demi hemat premi adalah penghematan semu ketika biaya perbaikan bodinya juga mengikuti kelas mobilnya.
Servis berkala dan ban. Alphard tetap Toyota, sehingga jadwal servis berkalanya mengikuti pola yang sama dengan model lain: ganti oli mesin, filter, cek rem, dan pemeriksaan berkala. Yang berbeda adalah harga komponennya dan tarif jasa di bengkel resmi kelas premium. Satu pos yang kerap mengejutkan pemilik baru adalah ban 225/55 R19. Ukuran 19 inci dengan profil tipis membuat harga per ban jauh di atas ban MPV biasa, dan penggantiannya selalu dalam kelipatan. Untuk memahami isi pekerjaan tiap kunjungan bengkel, lihat panduan biaya servis mobil berkala.
Konsumsi bahan bakar. Toyota tidak mencantumkan angka konsumsi bahan bakar resmi di halaman spesifikasi Alphard, jadi kami tidak mengarang angka km per liter. Yang bisa dipastikan dari data resmi adalah keberadaan dua karakter berbeda: tipe bensin 2AR-FE tanpa bantuan motor listrik, dan tipe hybrid A25A-FXS dengan motor 134 kW yang mengambil alih di kecepatan rendah. Untuk pemakaian kota yang padat dan berhenti-jalan, karakter hybrid secara desain lebih menguntungkan. Seberapa besar keuntungannya pada rute Anda hanya bisa dijawab dengan mencatat sendiri konsumsi per pengisian. Yang jelas, bodi 5.010 mm seberat kelas ini tidak akan pernah menjadi mobil irit, apa pun powertrain-nya.
Untuk menjumlahkan semua pos ini menjadi satu angka tahunan yang jujur, masukkan asumsi Anda ke kalkulator biaya kepemilikan kendaraan. Kalau pembeliannya lewat kredit, simulasikan lebih dulu cicilannya di kalkulator simulasi kredit mobil, karena bunga pada pokok Rp1,6 miliar bekerja dengan skala yang berbeda dari mobil Rp300 juta.
Depresiasi, Vellfire, dan alasan aturan mendorong kepemilikan atas nama badan
Pos biaya terbesar pada Alphard bukan pajak, bukan bensin, dan bukan servis. Pos terbesarnya adalah depresiasi, dan ia tidak pernah muncul di tagihan mana pun sehingga mudah diabaikan. Kami tidak mencantumkan persentase depresiasi maupun harga bekas karena angka itu tidak berasal dari sumber resmi Toyota, dan kami tidak menguji atau mensurvei pasar bekas. Yang bisa kami tunjukkan adalah skalanya lewat aritmetika sederhana atas harga resmi: pada tipe 2.5 G seharga Rp1.652.100.000, setiap penurunan nilai 10% setara Rp165.210.000. Angka itu lebih besar daripada harga sebuah mobil kota baru. Berapa pun laju depresiasi sesungguhnya, ia akan mendominasi total biaya kepemilikan Anda dalam rupiah.
Perbandingan dengan Vellfire memperjelas duduk perkaranya. New Vellfire Hybrid EV dibanderol Rp1.872.800.000, sedangkan New Alphard Hybrid EV tipe 2.5 Hybrid EV Rp1.737.400.000. Selisihnya Rp135.400.000. Padahal menurut data resmi Toyota, keduanya berbagi dimensi identik (5.010 x 1.850 x 1.945 mm, wheelbase 3.000 mm) dan powertrain identik (A25A-FXS dengan total tenaga sistem 184 kW atau 250 PS). Artinya selisih Rp135,4 juta itu Anda bayarkan untuk penampilan, kelengkapan, dan positioning, bukan untuk mesin yang lebih kuat. Ini bukan berarti Vellfire tidak layak dibeli. Ini berarti Anda sebaiknya sadar persis sedang membeli apa.
Lalu soal kepemilikan atas nama perusahaan. Kami tidak memiliki data resmi mengenai berapa persen Alphard di Indonesia terdaftar atas nama badan usaha, jadi kami tidak mengklaim angkanya. Yang bisa kami tunjukkan adalah insentif yang diciptakan aturannya, dan insentif itu sangat jelas. Perda DKI Jakarta Nomor 1 Tahun 2024 Pasal 7 ayat (3) menetapkan tarif PKB atas kepemilikan oleh Badan sebesar 2% dan tidak dikenakan pajak progresif. Penjelasan pasal itu bahkan menyebutkan alasannya secara terbuka, yaitu sebagai dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kepada pelaku usaha. Bandingkan dengan orang pribadi yang mobil keempatnya kena 5% dan mobil kelimanya kena 6%. Untuk perusahaan yang memegang beberapa kendaraan sekaligus, tarif tunggal 2% tanpa progresif adalah perbedaan struktural yang besar, dan itu sepenuhnya legal. Sebagai catatan tambahan, Pasal 7 ayat (2) Perda yang sama menetapkan tarif 0,5% untuk kendaraan yang digunakan sebagai angkutan umum, angkutan karyawan, angkutan sekolah, ambulans, pemadam kebakaran, serta keperluan sosial dan keagamaan. Perlu ditegaskan, tarif khusus itu melekat pada penggunaan yang sesungguhnya, bukan sesuatu yang bisa diakali dengan pendaftaran di atas kertas.
Siapa yang cocok, dan siapa yang lebih baik ambil Innova Zenix atau Fortuner
Setelah semua angka di atas, pemetaannya menjadi cukup tegas. Alphard masuk akal kalau kendaraan ini benar-benar dipakai untuk pekerjaan yang hanya bisa dilakukannya: mengantar penumpang di kursi belakang dengan kenyamanan yang menjadi bagian dari layanan Anda. Untuk perusahaan yang rutin menjemput tamu, eksekutif yang menghabiskan waktu kerja di kursi belakang sambil menyiapkan bahan rapat, atau operator layanan premium, kabin Alphard bukan kemewahan melainkan alat kerja. Tambahan lagi, secara aturan, kepemilikan atas nama badan usaha di DKI dikenai tarif tunggal 2% tanpa progresif, sehingga struktur biayanya lebih dapat diprediksi untuk pemakaian korporat.
Sebaliknya, Alphard adalah pilihan yang keliru kalau alasan utamanya "butuh mobil besar untuk keluarga". Untuk kebutuhan itu, Toyota Kijang Innova Zenix menyelesaikan pekerjaan yang sama dengan biaya yang berbeda kelas. Menurut daftar harga resmi Toyota per 01 Juli 2026, All New Kijang Innova Zenix mulai Rp437.700.000 dan versi Zenix Hybrid EV mulai Rp475.400.000. Bandingkan dengan Alphard 2.5 Hybrid EV Rp1.737.400.000: selisihnya Rp1.262.000.000, atau sekitar 3,7 kali lipat harganya. Uang selisih itu bukan cuma soal harga beli. Ia ikut mengecilkan basis PKB, premi asuransi, dan yang terpenting, nilai rupiah yang terdepresiasi setiap tahun. Kalau kebutuhannya sesekali mengangkut rombongan keluarga, aritmetikanya hampir selalu berpihak pada Zenix.
Kalau yang Anda cari adalah kehadiran dan kemampuan medan, bukan kabin belakang yang senyap, New Fortuner G mulai Rp584.500.000 dan New Fortuner GR Sport mulai Rp789.600.000 menawarkan wibawa jalan raya plus ground clearance yang tidak dimiliki Alphard. Alphard dengan bodi rendah dan pelek 19 inci jelas bukan kendaraan untuk jalan rusak atau medan berat. Pilihlah berdasarkan pekerjaan yang akan dilakukan kendaraan, bukan berdasarkan mana yang paling mengesankan di halaman rumah.
Penutupnya begini. Alphard adalah produk yang sangat bagus pada apa yang memang dirancang untuknya, dan sangat mahal untuk semua hal lain. Kalau setelah menghitung PKB dengan NJKB yang benar dari Bapenda, menaksir premi all risk dari nilai pertanggungan miliaran, dan mengakui bahwa depresiasi akan menjadi pos terbesar Anda, angkanya masih masuk akal bagi arus kas Anda, maka silakan. Kalau ragu, bandingkan dulu pilihan lain di katalog kendaraan. Terakhir, ingat bahwa seluruh banderol di artikel ini adalah OTR Jakarta per 01 Juli 2026 yang bergerak dan berbeda antarwilayah, serta seluruh unit berstatus Spot Order dengan indent minimal 3 bulan. Mintalah angka OTR terbaru secara tertulis langsung dari dealer Toyota sebelum memutuskan.
Sumber
- Toyota Astra Motor, Daftar Harga (Harga OTR Jakarta per 01 Juli 2026: New Alphard XE mulai Rp1.288.000.000, New Alphard XE Hybrid EV mulai Rp1.388.000.000, New Alphard Hybrid EV mulai Rp1.652.100.000, New Vellfire Hybrid EV mulai Rp1.872.800.000, All New Kijang Innova Zenix mulai Rp437.700.000, All New Kijang Innova Zenix Hybrid EV mulai Rp475.400.000, New Fortuner G mulai Rp584.500.000, New Fortuner GR Sport mulai Rp789.600.000)
- Toyota Astra Motor, New Alphard Hybrid EV (tipe 2.5 G mulai Rp1.652.100.000 dan tipe 2.5 Hybrid EV mulai Rp1.737.400.000, Harga OTR DKI Jakarta, Bekasi, Banten per 01 Juli 2026, Unit Spot Order indent minimal 3 bulan; dimensi 5.010 x 1.850 x 1.945 mm, wheelbase 3.000 mm; mesin 2AR-FE 2.5 GAS 134 kW/182 PS, 235 Nm/23,9 kgm; mesin A25A-FXS 2.5 HEV 140 kW/190 PS, 239 Nm/24,4 kgm, motor 134 kW/182 PS dan 270 Nm/27,5 kgm, HEV system output 184 kW/250 PS, CVT; ban 225/55 R19 alloy, suspensi FR Strut + RR DWB; Garansi Baterai 8 Tahun / 160.000 KM)
- Toyota Astra Motor, New Alphard XE (tipe 2.5 XE CVT mulai Rp1.288.000.000, Harga OTR Jakarta Pusat per 01 Juli 2026, Unit Spot Order indent minimal 3 bulan)
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, Pasal 9 ayat (1) (dasar pengenaan PKB adalah hasil perkalian nilai jual kendaraan bermotor dengan bobot), Pasal 10 ayat (1) (kepemilikan pertama paling tinggi 1,2 persen; kedua dan seterusnya progresif paling tinggi 6 persen), Pasal 10 ayat (2) (daerah setingkat provinsi yang tidak terbagi dalam kabupaten/kota otonom: pertama paling tinggi 2 persen, kedua dan seterusnya progresif paling tinggi 10 persen), Pasal 11 ayat (1) (pokok PKB = dasar pengenaan x tarif), dan Pasal 83 ayat (1) huruf a (Opsen PKB sebesar 66 persen dihitung dari besaran pajak terutang)
- Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pasal 7 ayat (1) (tarif PKB orang pribadi 2 persen kepemilikan pertama, 3 persen kedua, 4 persen ketiga, 5 persen keempat, 6 persen kelima dan seterusnya), Pasal 7 ayat (2) (tarif 0,5 persen untuk angkutan umum, angkutan karyawan, angkutan sekolah, ambulans, pemadam kebakaran, sosial keagamaan), Pasal 7 ayat (3) (kepemilikan oleh Badan dikenakan 2 persen dan tidak dikenakan pajak progresif), Pasal 7 ayat (4) dan penjelasannya (kepemilikan didasarkan atas nama, NIK, dan/atau alamat yang sama; progresif dibedakan berdasarkan kategori jumlah roda), serta Pasal 2 ayat (2) (opsen PKB dan opsen BBNKB termasuk jenis pajak yang tidak dipungut oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta)